Lenovo Sebut Harga RAM Tak Akan Kembali Seperti Sedia Kala
Lenovo memperingatkan harga RAM dan NAND kemungkinan tak akan kembali normal, membuat harga PC gaming dan console berpotensi terus naik.
Harus diakui bahwa kenaikan harga hardware gaming belakangan ini bukan lagi sekadar fenomena sesaat. Setelah gamer dihadapkan pada mahalnya kartu grafis dan kenaikan harga console generasi terbaru, kini muncul sinyal bahwa salah satu komponen paling penting dalam sebuah perangkat, yaitu memori RAM, juga berpotensi memasuki era harga tinggi yang akan bertahan dalam jangka panjang.
Peringatan tersebut datang dari Lenovo, yang dilaporkan oleh Computerbase. Pada ajang ISC 2026, Executive Director Infrastructure Solutions Group Lenovo EMEA, Martin Hiegl, mengatakan bahwa harga DRAM dan NAND Flash kemungkinan besar tidak akan pernah kembali ke level sebelum krisis pasokan yang terjadi sekitar satu tahun terakhir. Menurutnya, meski kapasitas produksi diperkirakan mulai meningkat pada 2028, harga memori yang tinggi tetap akan menjadi “normal baru” bagi industri teknologi.

Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya permintaan memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI). Produsen chip kini lebih banyak mengalokasikan kapasitas produksinya untuk High Bandwidth Memory (HBM) dan komponen kelas data center yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi. Akibatnya, pasokan DRAM dan NAND untuk PC, laptop, smartphone, hingga console menjadi semakin terbatas.
Dampaknya mulai terlihat di berbagai sektor. Microsoft baru saja mengumumkan kenaikan harga Xbox Series X hingga US$800, sementara sejumlah produsen perangkat lain juga telah memperingatkan bahwa biaya produksi akan terus meningkat jika harga memori tidak kunjung stabil. Bagi industri game, situasi ini menandakan biaya untuk memproduksi console maupun PC gaming baru berpotensi terus membengkak dalam beberapa tahun mendatang.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa berbagai perusahaan belakangan mulai mengubah strategi bisnis mereka. Sony, misalnya, telah mengisyaratkan bahwa mereka tidak lagi ingin menjual rugi console terbarunya, sementara berbagai laporan menyebut biaya produksi PlayStation 6 terus meningkat akibat mahalnya komponen seperti DRAM dan SSD. Jika harga memori benar-benar menjadi “normal baru”, maka bukan hanya console generasi berikutnya yang akan lebih mahal, tetapi juga biaya merakit PC gaming maupun membeli laptop baru.
Meski begitu, Lenovo menilai peningkatan kapasitas produksi dalam beberapa tahun mendatang tetap dapat membantu menstabilkan pasar. Hanya saja, perusahaan tersebut mengingatkan bahwa stabil bukan berarti murah. Dengan permintaan AI yang diperkirakan terus tumbuh hingga akhir dekade ini, harga memori kemungkinan akan bertahan jauh di atas level yang selama ini dianggap normal.
Bagi gamer, kabar ini menjadi pengingat bahwa kenaikan harga hardware mungkin bukan lagi persoalan sementara. Jika prediksi Lenovo terbukti akurat, membeli atau merakit perangkat gaming di masa depan bisa membutuhkan anggaran yang lebih besar dibanding beberapa tahun lalu.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda juga berpendapat bahwa era hardware gaming dengan harga terjangkau benar-benar mulai berakhir?










