Review Fire Emblem – Three Houses: Darah, Takhta, Wanita!

Reading time:
August 23, 2019

Wanita nan Indah

Performa NIntendo Switch yang lebih kuat tentu saja menjamin visualisasi lebih baik untuk Fire Emblem: Three Houses jika dibandingkan dengan versi 3DS masa lampau.

Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk persaingan konsol generasi saat ini, Nintendo Switch memang bisa disebut sebagai platform yang lebih lemah. Oieh karena itu, mengharapkan sesuastu yang punya visualisasi tajam dengan tekstur tinggi seperti game-game yang menjadikan cell-shading sebagai basis di game-game lain bukanlah sesuatu yang secara rasional bisa Anda antisipasi. Namun mengingat Fire Emblem terakhir dilepas di Nintendo 3DS – handheld yang notabene lebih lemah dari sisi performa, maka Three Houses saat ini sepertinya pantas menyandang predikat sebagai seri Fire Emblem dengan visualisasi terbaik. Bagi Anda yang familiar dengan daya tarik franchise ini, ini juga berarti desain karakter wanita yang tidak pernah gagal menggoda.

Dengan ekstra performa ini, keseluruhan pengalaman Fire Emblem: Three Houses memang dibangun di atas model tiga dimensi, baik dari karakter, struktur bangunan, hingga unit pada saat bertempur nanti. Salah satu perubahan yang paling signifikan dari strategi ini tentu saja lewat penyajian dialog yang kini disajikan dalam bentuk cut-scene yang seharusnya, alih-alih sekedar dua buah sprite gambar yang berhadapan satu sama lain. Apakah perubahan ini menawarkan sesuatu yang berbeda untuk Three Houses? Secara visual, iya. Namun tidak lantas membuatnya terasa lebih baik. Minimnya ekspresi emosi dan cut-scene yang sebagian besar berakhir dengan dua karakter yang berdiri statis sembari berbagi cerita membuatnya tidak terasa seperti sebuah upgrade besar dari menggunakan gambar karakter dua dimensi di masa lalu.

God bless Koei Tecmo!
Walaupun dialog kini disajikan dalam model karakter tiga dimensi, sensasinya tidak berbeda signifikan dibandingkan seri masa lampau. Salah satu alasan utamanya karena sebagian besar cut-scene percakapan ini berakhir dengan dua model karakter statis dengan minim animasi yang saling berbicara.

Tetapi, sekali lagi, sebuah ekstra apresiasi memang pantas untuk diberikan pada desain karakter yang diusung oleh Three Houses ini, terutama untuk karakter wanita yang ada. Tidak hanya saja kita bertemu dengan wajah karakter yang memanjakan mata saja, tetapi juga didukung dengan pemlilihan kostum yang begitu fantastis. Satu yang kami sukai adalah bagaimana penampilan ini, selain untuk sekedar fan-service, juga bisa memberikan insight tersendiri soal kondisi geopolitik masing-masing kerajaan yang terlibat di dalam Three Houses. Salah satu contoh paling keren? Dedue dan latar belakang kisahnya. Perang dengan keluarga sang raja – Dimitri memang berakhir dengan kekalahan rakyat Dedue, yang dikisahkan lewat dialog demi dialog. Namun konflik ini terasa memiliki “berat” tersendiri ketika Anda menyadari bahwa warna kulit rakyat Dedue berbeda dengan Dimitri, memberikan kesan bahwa perang ini mungkin bersifat kolonial.

Namun sayangnya, cermin geopolitik di antara tiga kerajaan dan Church of Seiros yang menjadi sentra cerita Three Houses ini tidak dieksplorasi lebih dalam. Setidaknya dari dua garis cerita yang kami jajal via Blue Lions dan Black Eagle (“Non-Edelgard), tidak ada banyak kesempatan untuk mengeksplorasi cara kerja, gaya hidup, kebudayaan, atau cara setiap kerajaan memerintah. Church of Serios menjadi “sentra peleburan” yang sayangnya juga menjadi alasan bagi Intelligent Systems dan Koei Tecmo untuk menyelami dunia lebih dalam. Padahal, potensinya besar. Bahkan dengan sekedar melihat desain kostum yang signifikan berbeda antara Golden Deer dan Black Eagle misalnya, ada kesan yang kuat bahwa kedua kerajaan ini memang punya gaya pemerintahan dan politik berbeda. Namun sayangnya, semuanya sekedar “kesan”.

Sayangnya, terlepas dari perbedaan kultur dan gaya pemerintahan yang terkesan cukup jelas dari desain karakter dan pakaian serta dialog, Fire Emblem tak banyak mengeksplorasi belakang layar Tiga Kerajaan yang ada.

https://www.facebook.com/pladidus/videos/10217457483203288/

Dengan semua yang ia tawarkan, apresiasi tertinggi dan terbaik yang bisa kami lontarkan tentu saja mengarah pada konten Voice Acting yang ia tawarkan. Bahwa berbeda dengan game RPG, modern sekalipun, konten VA di game ini benar-benar spektakular. Hampir semua karakter yang punya kaitan dengan cerita yang mengalir, utama ataupun bukan, dipersenjatai dengan voice acting. Untuk pengalaman lebih baik? Kami tanpa ragu untuk merekomendasikan Anda menggunakan bahasa Jepang sejak awal. Mengapa? Karena harus diakui, ada banyak karakter yang mengikuti trope anime di sini, sehingga karakterisasi terasa lebih tepat jika menggunakan bahasa Jepang untuk VA. Contoh? Bahasa Jepang adalah satu-satunya cara Anda untuk secara konsisten mendapatkan “Ara-ara” dari karakter keibuan – Mercedes dari Blue Lion, misalnya. Satu contoh konkrit yang sepertinya sudah cukup untuk mendukung argumen kami kali ini.

Sayangnya, tidak kesemua aspek presentasi ini memang bisa dibilang kuat. Ada beberapa momen musik misalnya yang mendukung atmosfer, namun tidak berakhir se-epik dan se-fantastis hingga ia akan terbakar kuat di otak Anda. Animasi serangan unit yang Anda temukan di sepanjang permainan juga menjadi sumber kekecewaan tersendiri. Hampir sebagian besar serangan ini, bahkan ketika Anda mengakses ragam serangan magic berbeda sekalipun, akan berakhir diikuti animasi yang serupa satu sama lain. Bahkan ketika Anda “naik kelas” (konsep yang akan kami bicarakan nantinya), masalah yang satu ini masih terjadi. Padahal ada potensi untuk membuat begitu banyak hal menjadi lebih dramatis.

Animasi serangan yang ditawarkan juga terhitung terbatas.
FMV super keren berhasil membuat momen penting dalam cerita semakin dramatis.

Fire Emblem: Three Houses juga menjadi sedikit dari game JRPG terbaru yang masih menggunakan FMV untuk meracik cut-scene cerita penting dalam skala yang lebih dramatis dengan cita rasa anime yang lebih kental. Hampir sebagian besar FMV ini menjalankan tugasnya dengan baik, membuat bagian cerita yang seharusnya menggugah emosi memang berakhir demikian. Kerennya lagi? Fire Emblem: Three Houses menyiapkan cukup banyak varian bergantung pada kerajaan dan jalan cerita yang Anda pilih.

Maka dari sisi presentasi, kami sendiri berakhir jatuh cinta sejak pandangan pertama dengan Fire Emblem: Three Houses. Performa ekstra dimanfaatkan untuk membawa segala sesuatunya ke arah model tiga dimensi sembari mempertahankan beberapa daya tarik serinya di masa lalu, dari karakter, voice acting, hingga desain karakter wanita memanjakan mata. Pada akhirnya, sulit rasanya untuk menyangkal bahwa pondasi untuk sebuah perang waifu sekala besar juga tersedia di sini.

3 Jalan, 4 Kisah

Ada tiga jalur cerita yang bisa Anda pilih memang. Namun sulit untuk menyangkal bahwa “cerita utama” Three Houses terletak di Black Eagle.

Lantas, bagaimana gaya Fire Emblem: Three Houses menyajikan ceritanya? Anda mungkin penasaran dengan sistem tiga kerajaan yang bisa Anda pilih di awal. Pada akhirnya, sulit untuk menyangkal bahwa satu dari tiga kisah yang bisa Anda jalani tersebut memang berakhir menjadi cerita utama. Sementara dua skenario sisanya berakhir menjadi skenario “alternatif” atau sekedar skenario pelengkap dari cerita utama yang ditawarkan. Ketiga cerita ini akan berpusat pada satu konflik utama yang sama, tetapi punya resolusi yang berbeda. Bahwa pada akhirnya, terlepas dari klaim apapun yang dilemparkan oleh Intelligent System, skenario milik Black Eagle di mata kami tetap pantas dihitung sebagai cerita utama dari Three Houses itu sendiri.

Di luar skenario Black Eagle, hampir semua skenario bergerak di dalam satu cerita linear yang sama. Bahwa terlepas dari beragam opsi percakapan yang muncul selama cut-scene, setidaknya hanya ada 2 titik dimana pilihan tersebut benar-benar mengubah kisah yang Anda dapatkan. Pertama, adalah ketika Anda memilih kerajaan yang akan jadi murid Anda, yang notabene akan mendefinisikan cerita dan juga karakter mana saja yang akan Anda dapatkan. Kedua? Di salah satu titik cerita Black Eagle yang akan memberikan pengalaman cerita yang berbeda.

Selebihnya? Semua pilihan yang muncul di cut-scene tidak akan menghasilkan cabang cerita apapun dan bertindak tak ubahnya sekedar kesempatan untuk meningkatkan level kedekatan dengan karakter lawan bicara. Maka dengan kombinasi-kombinasi ini, Fire Emblem: Three Houses menawarkan tiga jalan cerita, tetapi berakhir dengan 4 kisah yang bisa Anda selesaikan. Masing-masing darinya bisa menawarkan waktu gameplay 25-40 jam bergantung pada intensitas permainan Anda. Menyelesaikan ke-4 kisah ini tentu saja butuh waktu. Namun tenang saja, tidak ada rasa harus untuk menikmati setiap kisah ini, walaupun kami sendiri tetap merekomendasikan Anda untuk setidaknya mencicipi Black Eagle, apapun urutan permainan Anda nantinya.

Sayangnya, sebagian besar opsi percakapan yang ditawarkan tak banyak mengubah cerita yang disajikan linear.
Kerajaan yang Anda pilih akan menentukan karakter companion mana saja yang akan mengikuti Anda.

Selain cerita yang berbeda, Kerajaan yang Anda pilih juga akan berpengaruh pada karakter companion yang akan menemani Anda di sepanjang perjalanan. Bahwa setiap Kerajaan ini tidak hanya memiliki pemimpin yang berbeda saja, tetapi juga karakter-karakter pendamping yang menyertainya. Konsekuensinya tentu saja jelas – ia akan menentukan dengan siapa saja Anda bisa berinteraksi secara intens dan strategi pertempuran yang Anda jalani di sepanjang perjalanan. Untuk urusan kedua ini, ia mengakar pada fakta bahwa setiap Kerajaan ini biasanya memiliki komposisi kelas dan kemampuan karakter yang berbeda-beda, yang akan mempengaruhi gaya Anda bermain. Sebagai contoh? Memilih Blue Lion berarti berkesempatan untuk terus bertarung dengan Mercedes – salah satu healer terbaik di dalam game. Membawa Mercedes dan memperkuatnya berarti akan menjamin tim yang jauh lebih kuat dan sehat, sekaligus mematikan di saat yang sama. Sesuatu yang akan kita bahas nantinya.

Perbedaan karakter yang bisa Anda temui, ajak bicara, dan berkomunikasi secara intens juga berhasil menciptakan pengalaman yang unik untuk masing-masing Kerajaan yang Anda pilih. Mengapa? Karena seperti yang kami bahas sebelumnya, Intelligent System dan Koei Tecmo terhitung berhasil menciptakan karakter-karakter pendukung yang punya karakterisasi yang unik dan kuat, terlepas dari betapa kuatnya ia berkutat pada trope anime populer yang ada. Hasilnya? Tidak ada karakter yang punya latar belakang dan kepribadian yang serupa, hingga keunikan tersebut cukup untuk membuat Anda bisa memilih satu skenario Kerajaan semata-mata hanya karena Anda “jatuh hati” pada karakter yang ia usung. Sebagai contoh? Bernadetta alias Bernie adalah seorang pemanah anti-sosial yang benci keluar dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk bisa menikmati kepribadian dan kisahnya untuk keluar dari “cangkang” tersebut, Anda bisa mencicipinya via kisah Black Eagle.

https://www.facebook.com/pladidus/videos/10217557956915068/

Tenang, tetap ada kesempatan untuk merekrut anggota dari kerajaan lain jika Anda memenuhi syarat dan ketentuan mereka.

Namun bukan berarti pilihan Anda tertutup begitu saja begitu skenario spesifik Anda pilih. Fire Emblem: Three Houses tetap memberikan kesempatan bagi Anda untuk merekrut karakter lain dari Kerajaan lain dengan syarat tertentu. Anda memiliki level kedekatan yang mumpuni dengannya dan memastikan bahwa Anda memenuhi persyaratan status yang biasanya diajukan oleh masing-masing karakter ini. Walaupun tidak otomatis memiliki peran dalam cerita utama berdasar Kerajaan yang Anda pilih, karakter rekrutan ini tetap mampu terlibat dalam cut-scene dan interaksi dengan karakter-karakter pendukung original yang ada. Setidaknya Anda bisa memahami kepribadian dan latar belakang cerita mereka lebih dalam.

Dengan semua keunikan yang ia tawarkan, bagaimana jalan cerita dan karakter-karakter pendukung fantastis yang bisa Anda temui dan bahkan bisa berakhir Anda nikahi di akhir cerita tumbuh dan berkembang, maka tidak ada cara lain yang lebih baik untuk menikmati Fire Emblem: Three Houses selain menikmatinya di mode “Classic”. Mode Classic akan membuat semua karakter yang berakhir tewas di pertempuran akan tewas secara permanen dan tidak bisa Anda gunakan lagi sama sekali. Kisah apapun yang menyangkut mereka, termasuk misi sampingan, akan berakhir di titik tersebut. Dengan mode Classic ini, rasa cinta dan kepedulian Anda pada karakter-karakter dengan kepribadian kuat yang satu ini akan semakin intens. Hingga pada titik ia akan mengubah cara Anda berpikir dan mengambil keputusan pada saat bertarung, hanya untuk meamstikan mereka tidak berakhir harus meregang nyawa.

“Classic” Mode adalah cara terbaik untuk menikmati Fire Emblem: Three Houses.

Janji dan potensi cabang cerita yang benar-benar berbeda dengan menggunakan sistem 3 jalur – 4 kisah Fire Emblem: Three Houses ini memang tidak terealisasi maksimal. Bahwa sesungguhnya sulit untuk menyangkal bahwa Black Eagle lah yang pantas disebut sebagai “cerita utama” dari seri ini. Namun kelemahan ini berhasil ditutup dengan jalinan cerita kuat dan karakter-karakter pendukung unik di setiap Kerajaan yang bahkan cukup untuk mempengaruhi keputusan yang Anda ambil.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

February 26, 2021 - 0

Review NBA 2K21 (Next-Gen): Nombok Dong! Nombok Dong!

Anda yang secara aktif mengikuti JagatPlay sepertinya sudah mengetahui bagaimana…
February 25, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Hardware): Si Bongsor yang Buas!

Berapa banyak dari Anda yang masih ingat soal kekhawatiran tidak…
February 20, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Software): Indah, Elegan, Cepat!

Diskusi terkait konsol generasi terbaru memang lebih banyak didominasi soal…
February 17, 2021 - 0

Menjajal BETA Guilty Gear Strive: Siap Menjadi yang Terbaik!

Seperti halnya posisi Codemasters di dunia game racing, nama Arc…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…