Review Playstation 5 (Hardware): Si Bongsor yang Buas!

Reading time:
February 25, 2021

DualSense – Sang Primadona

Playstation 5 jagatplay 11
DualSense adalah primadona peralihan generasi Sony kali ini.

Pergantian generasi konsol memang selalu menarik. Namun dibandingkan dengan apa yang terjadi saat Anda berallih dari Playstation pertama ke Playstation 2, apa yang ditawarkan dari Playstation 4 ke Playstation 5 memang tidak terasa se-revolusioner yang Anda bayangkan.

Entah karena game-game di generasi sebelumnya sudah begitu matang atau karena memang, “visual” untuk generasi saat ini memang belum terdefinisi karena usianya yang masih muda. Game seperti Demon’s Souls Remake dan Spider-Man: Miles Morales PS5 memang memanjakan mata, namun pada akhirnya, ia terasa seperti sebuah “upgrade” alih-alih sesuatu yang benar-benar baru dan berbeda. Ada kesan sulit ditinggalkan bahwa Playstation 5 saat ini terasa seperti “Playstation 4 Super Duper Pro Max” dimana peningkatan difokuskan pada resolusi, framerate, ataupun fitur ray-tracing untuk game yang visualnya belum banyak “melonjak” dari Playstation 4. Sesuatu yang kita harapkan, berubah pelan tapi pasti, seiring dengan usia konsol yang makin dewasa.

Kesan “next-gen” sesungguhnya dari konsol terbaru milik Sony ini justru datang dari teknologi kontroler yang mereka  bawa – DualSense. Berbagi konsep tone dua warna yang sama dengan Playstation 5, kontroler dengan bentuk yang tetap mengikuti konsep desain DualShock 4 ini memang datang cukup mengejutkan. Pertama? Sony cukup gila untuk membuang nama “DualShock” yang sudah mereka bawa selama setidaknya empat generasi terakhir untuk sebuah branding yang baru. Kedua? Ia datang dengan begitu banyak “gimmick” yang di atas kertas terdengar seperti sebuah omong kosong belaka. Sony terus memasarkannya dengan embel-embel “Adaptive Trigger” dan “Haptic Feedback” untuk sensasi gameplay imersif. Otak kritis kita tentu saja menyeletuk, bagaimana mungkin kontroler bisa menawarkan hal-hal ini?

Tidak perlu menunggu lama untuk jatuh cinta pada DualSense yang di getaran pertamanya saja, sudah cukup untuk membuat semua rasa skeptis yang sempat tercipta. Bahwa semua fitur-terdengar-bak-gimmick yang ia usung seperti Adaptive Trigger dan Haptic Feedback memang bekerja seperti yang diiklankan, dan pada akhirnya memang menawarkan pengalaman bermain yang lebih imersif. Berita baiknya? Sony mengerti betapa sulitnya meyakinkan gamer akan hal tersebut dan dengan cerdas, merilis Playstation 5 langsung dengan Astro’s Playroom di dalamnya. Ini adalah strategi yang benar-benar mumpuni. Mengapa? Karena sesungguhnya, tidak ada lagi demo teknis yang bisa lebih sempurna.

Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, kedua fitur ini bisa disederhanakan demikian: Adaptive Trigger membuat tombol L2 dan R2 di DualSense kini memiliki motor getar-nya sendiri, membuat tombol ini bisa melawan balik jari Anda saat menekan dan karenanya, meninggalkan kesan lebih “berat” saat dibutuhkan. Intinya? Ia bisa membuat Anda yang tengah menarik busur parah, merasakan sensasi tersebut langsung di jari Anda. Haptic Feedback? Bayangkan sensasi getar DualShock yang kini bisa punya “detail” lebih baik. Ini berarti, getaran bisa terasa lebih kuat, lebih lemah, di beragaim titik kontroler, bergantung pada situasi di dalam game. Yang membuat keduanya fantastis? Lewat Astro’s Playroom, Sony memperlihatkan apa yang bisa ia lakukan.

Astro’s Playroom jadi ruang terbaik untuk memamerkan Haptic Feedback yang bisa dilakukan DualSense. Dengan level yang terbagi dalam beragam tema dan terrain, Anda benar-benar bisa merasakan sensasi yang berbeda-beda, dari hal sekecil berjalan. Pada saat karakter Anda berjalan di atas pasir, di atas rumput, atau di atas bebatuan, getaran yang menjalar di keseluruhan DualSense akan terasa berbeda. Bagian yang paling membuat kami berujung kagum? Ketika salah satu level dengan efek hujan ternyata berhasil ditranslasikan ke dalam Haptic Feedback. Benar sekali, Anda bisa “merasakan” rintik hujan lewat getar-getar kecil yang tersebar di DualSense. Lebih gilanya lagi, seiring dengan hujan yang kian lebat, getaran-getaran ini juga menguat. Gila!

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Pladidus Santoso (@pladidus)

Astros Playroom jagatplay 28 1
Kekaguman tertinggi muncul ketika rintik hujan di Astro’s Playroom bisa diterjemahkan dalam getaran-getaran kecil penuh detail Haptic Feedback di DualSense.

Sementara untuk urusan Adaptive Trigger, game action dengan senjata range sepertinya masih jadi “rumah” terbaik untuk menikmati sensasi-nya. Game seperti CONTROL: Ultimate Edition dan Watch Dogs: Legion PS5 sudah mengakomodasi fungsi ini, membuat tombol R2 Anda akan punya “daya lawan” berbeda-beda bergantung pada senjata yang Anda gunakan. Di Astro’s Playroom, daya lawan tersebut bahkan mampu menghentikan tombol R2 Anda di tengah tekan, yang membuat Anda harus mengaplikasikan lebih banyak tenaga, seperti saat menekan tuas mesin gacha misalnya. Di game-game seperti ini, Adaptive Trigger bersinar.

Namun harus diakui, dukungan untuk fitur DualSense masih bergantung pada developer. Dari sisi Sony sendiri, implementasinya tidak selalu sesuai dengan ekspektasi Anda. Pertama, tidak ada satupun fitur ini didukung oleh game-game eksklusif PS4 mereka yang Anda jalankan via Backward Compatibility, bahkan untuk God of War yang sempat meluncurkan update PS5 terpisah sekalipun. Saat review ini ditulis, terlepas dari potensi untuk membuat aksi Leviathan Axe oleh Kratos bisa lebih sempurna lewat Adaptive Trigger, fitur ini tidak tersedia.

Kedua? Eksekusinya di beberapa judul, terasa terlalu dangkal. Sebagai contoh? Marvel’s Spider-Man: Miles Morales. Adaptive Trigger memang memberikan sedikit daya lawan saat Anda menembakkan jaring dan mengayun. Namun, sensasinya selalu konstan terlepas dari apapun yang Anda lakukan. Padahal yang kami harapkan? Adaptive Trigger harusnya bisa merefleksikan momentum gerak misalnya, dimana R2 untuk berayun akan semakin berat seiring dengan kecepatan jatuh Spider-Man ke tanah karena gravitasi. Bayangkan serunya jika Adaptive Trigger ini akan mewakili usaha Anda untuk melawan momentum tersebut.

Playstation 5 jagatplay 16
Fakta bahwa fitur DualSense ini tidak “otomatis” muncul di game-game eksklusif PS4 yang bisa dimainkan dalam format BC, cukup mengecewakan.

Untungnya, terlepas dari kedua teknologi di dalam DualSense yang secara rasional harusnya membutuhkan tenaga untuk bisa bergerak ini, kontroler ini tetap mempertahankan daya tahan baterai yang tetap memuaskan. Ia masih bisa menangani sesi gaming 5-6 jam Anda sebelum Anda mendapatkan peringatan bahwa baterainya berada dalam kondisi butuh diisi. Tentu saja, daya tahan ini dipengaruhi oleh seberapa intens penggunaan fitur Haptic Feedback dan Adaptive Trigger Anda. Jika Anda mematikan total kedua fitur tersebut dari opsi yang tersedia, baik karena masalah ketidaknyamanan ataupun strategis untuk gameplay, Anda harusnya bisa menemukan daya tahan baterai DualSense yang lebih panjang.

Lantas, bagaimana dengan isu drifting yang sempat panas pada saat artikel review ini meluncur? Terlepas dari keluhan mengemuka yang kini bahkan mulai bertransformasi menjadi tuntutan hukumi di Amerika Serikat, kami sendiri tidak merasakan masalah drifting di DualSense yang kami miliki, terlepas dari sesi gaming intensif selama beberapa minggu terakhir ini. Analog kami bekerja dengan seharusnya, tanpa memperlihatkan indikasi drifting sama sekali. Oleh karena itu, masalah drifting ini tampaknya menyerupai apa yang sempat terjadi dengan Nintendo Switch, yang kembali di kasus kami, juga tidak mengalami drifting seperti yang dikeluhkan cukup banyak orang. Apakah kami sekadar beruntung? Ataukah ia dipengaruhi juga oleh gaya bermain? Untuk saat ini, ia masih jadi misteri.

Playstation 5 jagatplay 15
Terlepas dari ragam laporan yang muncul, DualSense kami sendiri tidak mengalami masalah drifting.
giovanna1
D-pad DualSense tetap tidak nyaman digunakan untuk game fighting.

Sesi gaming satu minggu terakhir saat review ini ditulis justru membuka kami pada satu hal yang kami tidak kami sukai dari DualSense – sang D-pad. Memainkan beta Guilty Gear Strive menggunakan DualSense adalah awal penderitaan yang tidak pernah kami perkirakan, harus kami lewati. Sesi gaming fighting yang butuh akurasi tekan tombol dan gerakan memutar untuk mengeksekusi ragam jurus tersebut hanya butuh waktu singkat untuk jadi resep melahirkan “jempol kapalan”. Sebagai gamer yang tidak pernah bisa memainkan game fighting menggunakan analog, ketidaknyamanan d-pad DualSense untuk genre seperti ini tentu saja jadi tamparan ekstra.

Kesimpulan

Playstation 5 jagatplay 17
Playstation 5 tampil sebagai konsol next-gen yang menjanjikan. Kita bicara soal mesin gaming seharga 7,2 juta Rupiah untuk versi digital dan 8,7 juta Rupiah untuk versi dengan slot blu-ray yang tidak hanya mengusung performa yang memesona, tetapi juga memuat beragam teknologi dan fitur yang membuat aktivitas gaming tak lagi sekadar menyenangkan, tetapi juga menarik untuk diantisipasi. Selamat datang di generasi terbaru!

“Si Bongsor yang Buas” sepertinya memang bukan panggilan yang berlebihan untuk menjelaskan apa yang berhasil dicapai Sony dengan Playstation 5. Memang secara garis besar, ia terasa seperti penyempurnaan dan penguatan Playstation 4 yang tidak sebegitu revolusioner transisi generasi-generasi sebelumnya. Namun beberapa unjuk kekuatan yang ia perlihatkan lewat kombinasi ragam fitur, dari SSD super cepat, 3D Audio, hingga implementasi visual di game-game eksklusif yang sudah tersedia cukup untuk memberikan gambaran soal potensinya untuk kian “matang” di masa depan. Apalagi segala sesuatunya disempurnakan dengan DualSense yang tampil sebagai primadona, dimana Adaptive Trigger dan Haptic Feedback berujung berkontribusi signifikan pada pengalaman bermain yang signifikan.

Namun bukan berarti konsol ini datang sempurna. Sony butuh mengkomunikasikan lebih aktif soal beberapa hal terkait Playstation 5, terutama soal expansion storage yang di awal sempat diklaim akan mengakomodasi SSD NVME merk apapun selama ia memenuhi kecepatan yang mereka minta. Memang ada potensi game akan tampil makin ramping lewat sistem kompresi data seperti yang dipamerkan CONTROL, namun hingga sebagian besar game mengaplikasikan hal tersebut, ruang data sebesar 667 GB tak terasa cukup dan seringkali merepotkan. Mereka juga butuh melepas demo, game, atau apapun yang bisa dijadikan sebagai standar implementasi 3D Audio yang seharusnya.

Terlepas dari kekurangan tersebut, Playstation 5 tampil sebagai konsol next-gen yang menjanjikan. Kita bicara soal mesin gaming seharga 7,2 juta Rupiah untuk versi digital dan 8,7 juta Rupiah untuk versi dengan slot blu-ray yang tidak hanya mengusung performa yang memesona, tetapi juga memuat beragam teknologi dan fitur yang membuat aktivitas gaming tak lagi sekadar menyenangkan, tetapi juga menarik untuk diantisipasi. Selamat datang di generasi terbaru!

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…
November 29, 2024 - 0

Palworld Dan Terraria Crossover Event Akan Hadir Pada 2025

Palworld dan Terraria umumkan event crossover yang akan digelar pada…

PlayStation

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…
December 7, 2024 - 0

Preview Infinity Nikki: Game Indah Di Mana Baju Adalah Pedangmu

Kesan pertama kami setelah memainkan Infinity Nikki selama beberapa jam;…

Nintendo

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 30, 2025 - 0

Review Nintendo Switch 2: Upgrade Terbaik Untuk Console Terlaris Nintendo

Nintendo Switch 2 merupakan upgrade positif yang telah lama ditunggu…
July 28, 2023 - 0

Review Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Tak Sesempurna yang Dibicarakan!

Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang tak sesempurna yang dibicarakan…
May 19, 2023 - 0

Preview Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Kian Menggila dengan Logika!

Apa yang ditawarkan oleh Legend of Zelda: Tears of the…