Review The Evil Within: Kenikmatan Survival Horror Klasik!

Reading time:
October 27, 2014

Beberapa Desain yang Dipertanyakan

Terlepas dari cita rasa survival horrornya yang kuat, ada beberapa desain dalam The Evil Within yang pantas dipertanyakan.
Terlepas dari cita rasa survival horrornya yang kuat, ada beberapa desain dalam The Evil Within yang pantas dipertanyakan.

Terlepas dari kemampuan Shinji Mikami menawarkan pengalaman yang senantiasa mencekam dan menegangkan di The Evil Within lewat mekanik utama yang pantas untuk diacungi jempol, ada beberapa masalah desain yang cukup terlihat tidak rasional dan justru mengundang lebih banyak tanda tanya bagi kami, sebagai gamer yang menikmatinya. Kelemahan desain yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Salah satu catatan yang terbesar adalah keharusan untuk mempertahankan dua baris garis hitam di bagian atas dan bawah layar Anda tanpa ada kesempatan untuk menonaktifkannya. Walaupun diklaim dihadirkan untuk menghasilkan sensasi yang jauh lebih sinematik, namun kedua bar ini berarti membuat Anda harus berhadapan dengan resolusi gameplay yang lebih kecil dibandingkan dengan game-game lainnya di pasaran. Hasilnya? Anda punya ruang yang sangat terbatas untuk memerhatikan apa yang sebenarnya tengah terjadi di sekitar Anda, terutama semua bentuk ancaman yang berada di bawah pinggang Seb, apalagi jika Anda bergerak cepat. Memang ada cara untuk menonaktifkannya di PC, namun untuk versi Playstation 4 yang kami gunakan untuk review, opsi tersebut nihil. Sangat mengganggu, dan sangat disayangkan.

Bar hitam di bagian atas dan bawah game yang justru lebih banyak mengganggu daripada menawarkan kesan sinematik yang didengungkan oleh Mikami.
Bar hitam di bagian atas dan bawah game yang justru lebih banyak mengganggu daripada menawarkan kesan sinematik yang didengungkan oleh Mikami.
Berharap obor ini akan berfungsi seperti layaknya korek api raksasa? Nope.
Berharap obor ini akan berfungsi seperti layaknya korek api raksasa? Nope.

Desain yang lain adalah sensasi tidak konsistennya beberapa elemen gameplay yang ditawarkan The Evil Within itu sendiri. Salah satu bukti yang paling nyata adalah fungsi korek api yang esensial untuk membakar para Haunted, misalnya. Jika sebatang korek api bisa membakar satu mayat secara efesien dan memastikan mereka tidak kembali, bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh sebuah obor api yang menyala terang? Logikanya adalah obor seharusnya bisa digunakan untuk membakar lebih banyak mayat, setidaknya membantu Anda menghemat korek api yang terbatas. Tapi apa yang terjadi? Anda tidak bisa melakukan hal itu di The Evil Within. Obor hanya bisa digunakan sekali untuk membakar Haunted yang berdiri tegak secara instan dan hancur seketika. Berniat menggunakannya sebagai pengganti korek api? Lupakan. Hal yang sama juga terjadi dengan senjata melee seperti kapak yang juga hanya bisa digunakan satu kali per musuh. Desain yang tentu aneh dan terasa dibuat-buat.

Salah satu “cacat” desain lain yang sempat kami rasakan juga lahir dari fakta bahwa Mikami terlihat terlalu tegas dengan konsep resource The Evil Within yang terbatas, dan terkadang berakhir pada sebuah pertempuran yang mustahil untuk diselesaikan. Seperti yang sempat terjadi pada kami. Berhadapan dengan hampir lebih dari 20 Haunted yang sudah berusaha ditindak dengan beragam cara yang menutut resource sekecil mungkin, kami berhasil selamat dari tantangan yang satu ini dengan jumlah peluru dan Agony Bolt yang terhitung sangat terbatas. Dengan tidak ada lagi resource di sekitar yang bisa dikumpulkan, kami berasumsi bahwa Mikami akan cukup “baik hati” untuk menyediakan resource tersebut di area selanjutnya. Namun apa yang kami hadapi? Chainsaw-Man di depan pintu yang harus ditundukkan sebelum bisa bergerak ke area selanjutnya. Dengan akumulasi dari beragam senjata yang nyaris kosong dan Agony Bolt juga bernasib sama, bagaimana caranya menundukkan ancaman seperti ini ketika lari bukan opsi? Salah satu opsi paling rasional adalah mengulang kembali chapter namun dengan pendekatan resource yang berbeda. Kami sendiri berhasil menundukkanya lewat 3 lemparan granat spekulatif yang mencederai sang musuh, setelah hampir belasan kali mengulang.

Tidak punya lagi resource dan dipaksa bertarung melawan boss setelah menundukkan puluhan Haunted? What the..
Tidak punya lagi resource dan dipaksa bertarung melawan boss setelah menundukkan puluhan Haunted? What the..
Tewas di sini? Anda dipaksa mengulang event non-cutscene yang tidak bisa di-skip. Ditambah ekstra loading time tiap kali Anda mati? Buang-buang waktu.
Tewas di sini? Anda dipaksa mengulang event non-cutscene yang tidak bisa di-skip. Ditambah ekstra loading time tiap kali Anda mati? Buang-buang waktu.

Berita yang lebih buruk dari sekedar mati dan mengulang, beberapa titik cerita bahkan memiliki titik checkpoint dengan event berbentuk non-cutscene yang tidak bisa Anda lewati. Seperti ketika Anda bertemu dengan si kepala besi di chapter 7 misalnya. Anda harus melewati animasi pintu besar yang terbuka, animasi pertama kali bertemu dengan si kepala besi di ujung ruangan, animasi kaki yang terperangkap, dan kemudian terlibat aksi lari dari perangkap dengan kamera yang mengambil sudut dari depan. Gagal? Tidak sengaja tewas? Anda harus melewati semua animasi ini kembali, yang bisa memakan waktu sekitar 3-4 menit sendiri, atau bahkan 5-6 menit jika Anda menghitung waktu loading yang kembali berputar.

Kesimpulan

The Evil Within_20141022235749
The Evil Within menjadi sebuah proyek game survival horror yang pantas untuk dinikmati, terutama jika Anda sudah lama mendambakan game yang berkualitas tinggi dari genre ini. Resource terbatas, karakter utama yang rapuh, atmosfer yang mencekam, dan cerita yang cukup memancing rasa penasaran, The Evil Within muncul layaknya sebuah oase bagi para penggemar Resident Evil dan Silent Hill klasik.

Sebuah penantian yang terbayarkan dengan manis, ini mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan pengalaman yang ditawarkan oleh The Evil Within ini sendiri. Sebagai proyek yang sejak diperkenalkan diklaim akan mengusung cita rasa genre survival horror klasik, Shinji Mikami tidak hanya sekedar menjual kata-kata, namun membuktikan semua ucapannya lewat The Evil Within ini. Mencekam dengan atmosfer permainan yang terbangun sangat baik, Anda akan berhadapan dengan situasi yang selalu menegangkan, terutama lewat fakta bahwa Anda tidak punya kebebasan untuk melawan balik sesuka hati Anda. Resource yang terbatas dan fakta bahwa karakter utama Anda cukup rentan terhadap serangan membuat rasa was-was yang senantiasa hadir, memastikan langkah yang Anda tempuh berujung pada resiko seminim mungkin. Seperti genre yang ia usung, The Evil Within memang menuntut Anda untuk bertahan hidup.

Walaupun demikian, The Evil Within tentu saja tidak sesempurna yang dibayangkan. Ada beberapa catatan yang sayangnya, cukup mencederai pengalaman bermain yang ditawarkan – dari bar hitam yang tidak bisa dihilangkan dari versi konsol, hingga AI musuh yang harus diakui tidak cukup cerdas. Beberapa cacat desain lain seperti jumlah resource yang tidak diperhitungkan, checkpoint yang jauh, hingga desain mekanik yang terasa tidak sesuai juga menjadi sesuatu yang pantas diperhatikan. Ada satu hal ekstra lain yang cukup disayangkan, yakni kepribadian sang karakter utama – Sebastian Castellanos yang sangat dangkal dan tidak menarik. Terlepas dari fakta bahwa ia harus berjuang di tengah gempuran para “monster” absurd mematikan dan terlempar ke dunia cermin yang misterius, Seb tidak melemparkan reaksi yang seharusnya dimunculkan oleh manusia pada umumnya. Takut? Cemas? Tidak percaya? Seb terlalu “anteng”.

Namun terlepas dari semua hal tersebut, The Evil Within menjadi sebuah proyek game survival horror yang pantas untuk dinikmati, terutama jika Anda sudah lama mendambakan game yang berkualitas tinggi dari genre ini. Resource terbatas, karakter utama yang rapuh, atmosfer yang mencekam, dan cerita yang cukup memancing rasa penasaran, The Evil Within muncul layaknya sebuah oase bagi para penggemar Resident Evil dan Silent Hill klasik.

Kelebihan

Holy..
Holy..
  • Cerita yang cukup memancing rasa penasaran
  • Resource yang terbatas
  • Karakter utama yang terasa rapuh
  • Kesempatan untuk memperkuat Seb
  • Atmosfer yang mencekam
  • Setiap chapter yang terasa unik, tidak monoton
  • Desain Boss yang keren

Kekurangan

Seb jadi karakter utama yang harus diakui, terlalu
Seb jadi karakter utama yang harus diakui, terlalu “datar” dan tidak menarik.
  • Bar hitam untuk kesan sinematik yang tidak bisa diotak-atik
  • Framerate tidak stabil
  • Visualisasi yang tidak seberapa istimewa
  • Checkpoint yang terkadang terlampau jauh
  • Beberapa desain gameplay yang dipertanyakan
  • Kepribadian karakter yang tidak terlalu menarik

Cocok untuk gamer: pecinta genre survival horror klasik, penikmat karya Mikami di masa lalu

Tidak cocok untuk gamer: yang mengharapkan game horror ala Resident Evil modern, yang menginginkan game dengan resource melimpah

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

December 3, 2021 - 0

Review CHORUS: “Menari” di Angkasa Luar!

Seberapa sering Anda menemukan video game yang mengambil luar angkasa…
November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…

PlayStation

December 2, 2021 - 0

Review Battlefield 2042: Setengah Matang!

Bagi mereka yang mencintai FPS sebagai genre, Battlefield dari EA…
November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…