Review Call of Duty – Modern Warfare Reboot: Pisau Tumpul Realita!

Reading time:
November 7, 2019

Visualisasi Lebih Baik

Dibandingkan seri-seri sebelumnya, visualisasi MW Reboot ini memang terlihat lebih baik, terutama dari sisi pencahayaan.

Salah satu berita yang paling disambut baik di rilis COD: Modern Warfare Reboot ini adalah kepastian implementasi engine terbaru yang pada akhirnya, membuat seri teranyar Call of Duty ini berakhir jauh lebih memanjakan mata daripada seri-seri sebelumnya. Bahwa engine teranyar ini tidak hanya menawarkan kualitas detail yang memesona saja, terutama dari model karakter dan tekstur pakaian atau detail senjata misalnya, tetapi juga permainan efek tata cahaya yang membuat banyak momen kini terasa dan terlihat lebih dramatis. Bahkan cahaya ini menjadi salah satu kunci yang mendefinisikan pengalaman Call of Duty yang lebih dekat dan personal, terutama dari mode single player yang ia usung.

Satu yang menarik, adalah pendekatan cerita dan dramatisasi yang ia lakukan. Bahwa tidak seperti seri-seri Modern di masa lampau dimana sebagian besar sisi cerita disajikan dari perspektif orang pertama, COD: Modern Warfare Reboot ini mengambil pendekatan yang lebih “modern”.

Bahwa porsi cerita kini lebih banyak disajikan via sebuah video cut-scene dengan karakter pre-rendered yang saling berbicara satu sama lain, meninggalkan cita rasa film Hollywood yang lebih kentara. Pendekatan seperti ini sayangnya, sulit untuk kami sambut dengan tangan terbuka. Walaupun dramatisasi kacamata orang pertama dengan in-game engine masih terjadi, kehadiran cut-scene seperti ini seolah merenggut “identitas” Call of Duty, terutama untuk mereka yang sempat menikmati seri lawasnya. Seandainya saja mereka mempertahankan cerita dari sudut orang pertama dan membiarkan briefing misi disajikan dalam bentuk pergerakan peta saja, maka kami akan lebih menyukainya.

Kami termasuk gamer yang sepertinya tidak memfavoritkan cut-scene pre-rendered orang ketiga untuk membangun sisi cerita seperti ini. Kami lebih menyukai pendekatan lawas.
Situasi lingkungan dinamis penuh kekacauan di beberapa misi membuat momen yang ada, terasa lebih genting dan dramatis.

Namun di sisi lain, Infinity Ward juga menyuntikkan lebih banyak momen “terbuka” untuk membangun karakter dan menghadirkan animasi-animasi keren. Tidak lagi terkunci di momen yang mungkin lebih identik dengan QTE misalnya, Anda bisa melihat aksi Farah atau Price yang berusaha menundukkan musuh di depan mata dengan ragam gerakan CQC yang ia eksekusi. Tidak lagi terkunci sebagai cut-scene, Anda kini bisa ikut berperan menghabisi mereka dengan menggunakan senjata api Anda dengan cepat dan memutus animasi tersebut. Kekacauan saat aksi teror dan perang yang melibatkan penduduk sipil kini juga disajikan di dalam gameplay dan bukan sekedar cut-scene. Sebuah strategi untuk “memicu” proyeksi citra perang lebih realistis dan gelap yang akan kita bicarakan di sesi selanjutnya.

Sementara dari sisi suara, tidak ada yang perlu diragukan. Desain tata suara, dari suara tembakan dari senjata yang berbeda-beda hingga sekedar derap kaki yang Anda dengar di mode single-player dan multiplayer tentu akan menawarkan pengalaman bermain imersif sekaligus clue untuk membangun kewaspadaan lebih baik soal apa yang tengah terjadi di sekitar. Sementara dari sisi musik, kami tidak mendapatkan sesuatu yang sepenuhnya memorable. Musik yang diusung memang cocok untuk membangun atmosfer yang ada, namun tidak cukup kuat berakhir di playlist akun Spotify Anda misalnya.

Maka dari sisi presentasi, kualitas visualisasi yang diklaim Infinity Ward dan Activision akan lebih baik di COD: Modern Warfare Reboot ini berkat implementasi engine teranyar memang terbukti. Dibandingkan dengan seri-seri sebelumnya, terutama di mode single-player, detail yang ia tawarkan terutama dari sisi tata cahaya memang memesona. Sayangnya, dari mode multiplayer, ia masih menawarkan sensasi multiplayer seklasik yang Anda bayangkan. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari sisi presentasi, seperti kehancuran karena senjata berat dan sejenisnya di sini.

Pisau “Realita” yang Tumpul

Sejak awal ia diperkenalkan, Infinity Ward terus mendengungkan klaim soal bagaimana Modern Warfare Reboot ini akan menawarkan cita rasa perang yang lebih realistis dengan tema yang lebih relevan.

Tentu menggembirakan untuk melihat mode single-player Call of Duty kembali di tangan Infinity Ward, yag memang digadang sebagai peracik cerita terbaik dari tiga developer yang bergabung dalam siklus rilis franchise yang satu ini. Apalagi di tahun sebelumnya, Treyarch bahkan “membuang” total mode ini untuk menghasilkan seri Call of Duty yang sepenuhnya multiplayer dengan battle-royale yang menjadi daya tarik utama. Dengan nama Modern Warfare yang ia bawa, Infinity Ward mendorong narasi yang menarik. Bahwa di seri reboot ini, mereka hendak merepresentasikan perang yang lebih “abu-abu” dimana tidak ada pihak yang benar-benar jahat ataupun baik mengingat ragam kepentingan yang mereka bawa. Mereka juga ingin memotret betapa destruktifnya perang untuk kehidupan mereka yang sebenarnya, tidak mengangkat senjata. Intinya? Mengejar representasi yang lebih realistis.

Apakah mereka berhasil? Iya dan tidak. Untuk urusan memproyeksikan kesan perang yang destruktif, terutama untuk masyarakat sipil, Infinity Ward memang melakukan tugas yang terhitung baik. Ada banyak momen scripted, seperti saat Anda berperan sebagai Farah kecil yang tidak hanya harus kehilangan tanah kelahirannya – Urzikstan karena invasi mendadak Russia saja, tetapi juga melihat kedua orang yang paling ia cintai – Ayah dan Ibunya harus meregang nyawa dengan cara yang tidak manusiawi, memang harus diakui cukup menggetarkan hati. Bulu kuduk Anda juga cukup merinding ketika melihat pasukan bersenjata tiba-tiba menyerbu kota London dan menembakkan senjata mesin ke arah penduduk sipil yang berlarian. Setidaknya untuk aspek ini, Infinity Ward melakukan tugasnya yang baik.

Potret lugas korban perang yang kebanyakan dari sipil memang membuat tema Modern Warfare lebih “berat”.
Ada beberapa masalah yang membuat beberapa aspek ini tidak “berhasil”.

Namun sayangnya, kesan kuat itu tidak berhasil dihadirkan oleh ragam momen “penting” yang sempat disebut-sebut Infinity Ward akan membuat gamer mempertanyakan moral mereka. Mereka memang merancang beragam situasi dinamis dan genting dimana gerak cepat gamer untuk menekan pelatuk senjata mesin akan menentukan siapa yang hidup dan mati, dari situasi sandera hingga terorisme di tengah keramaian. Tetapi apa yang berusaha mereka dorong tersebut justru terasa seperti pisau “realita” yang terlihat begitu berbahaya di permukaan, namun kenyataannya, tumpul.

Apa yang terjadi? Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, keterikatan emosional. Karena setiap karakter sipil yang bisa Anda bunuh ini tidak punya latar belakang jelas untuk membuat Anda peduli, menyarangkan peluru ke kepala mereka tidak meninggalkan rasa bersalah apapun di akhir. Kedua? Infinity Ward sendiri, setengah hati.

Ada beberapa momen super brutal yang sebenarnya bisa berujung dengan konsekuensi moral yang lebih berat dan signifikan, namun berakhir “dibatasi” oleh Infinity Ward itu sendiri. Ada dua kasus yang kami temukan, yang membuat kami kecewa. Pertama pada saat Anda bertemu dengan bayi menangis di salah satu misi Raid yang jika Anda tembak, justru akan berakhir dengan layar Game Over. Scene kedua terjadi di pada saat momen interogasi salah satu tokoh antagonis – Butcher dengan membawa sang anak dan istri di ruangan yang sama dan mengancam mereka dengan senjata api yang berisikan peluru tajam. Jika Anda berakhir membunuh sang anak? Game Over. Jika Anda berusaha menembak kepala sang istri? Ia didesain untuk tidak bisa terluka. Kedua kasus ini menjadi bukti kuat, bahwa terlepas dari semua ucapan dan klaim Infinity Ward ini, mereka masih mempertimbangkan soal potensi kontroversi, aspek bisnis, dan berakhir menentukan apa-yang-boleh-dan-tidak-boleh-dilakukan menurut standar mereka, yang notabene mengkhianati apa yang berusaha mereka kejar.

Setengah hati, Infinity Ward masih membatasi apa yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan. Yang sayangnya, sebagian besar mempengaruhi momen yang seharusnya lebih penting dan berkesan.
Citra “satu dimensi” Russia sebagai pihak antagonis membuat cita rasa fiktifnya justru mengalir kentara. Anda seperti terjebak di film aksi masa lampau.

Alasan ketiga yang membuat situasi ini tidak seberapa signifikan? Karena pada akhirnya, alih-alih realistis, kisah perang yang ditawarkan oleh Infinity Ward di Modern Warfare Reboot terasa begitu fiktif dan tidak masuk akal. Kondisi yang tentu saja merenggut mimpi dan klaim soal skenario perang yang relevan. Kita berbicara soal game FPS yang masih menjagokan Amerika Serikat sebagai tokoh protagonis yang sikap buruknya masih dipaksa untuk terjustifikasi, melawan pasukan Russia yang datang sebagai tokoh antagonis dengan sikap dan perlakuan super brutal tanpa belas kasihan ke tawanan perang, yang membuatnya terasa satu dimensional. Benar sekali, alih-alih “abu-abu”, Call of Duty: Modern Warfare Reboot masih terjebak dalam situasi cerita hitam-putih yang dengan lantang berteriak “AMERICA FUCK YEAH!” alih-alih menyajikan cerita yang mendalam dan menggugah sekelas Spec Ops: The Line, misalnya.

Situasi tidak realistis ini juga muncul dari keprbadian salah satu karakter protagonis yang juga sering Anda kendalikan – Alex. Di awal, Alex merupakan “jembatan” Price untuk bernegosiasi dan mengambil hati Farah dan pasukan pemberontaknya. Namun hanya dalam beberapa misi saja, dengan interaksi yang tidak bisa dibilang kuat dan mendalam dengan Farah, Alex yang notabene merupakan pasukan khusus Amerika Serikat tiba-tiba tidak ragu untuk melawan perintah atasannya dan memilih untuk berdiri di bawah bendera Urzikstan. Rela mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan pasukan Farah dari kejaran tentara Russia, tanpa ragu. Untuk dua karakter yang hubungannya tidak seberapa dalam, tidak menjalani banyak misi bersama, tidak pernah menyuarakan persahabatan yang kuat, ini adalah sebuah situasi yang tentu saja absurd dan membingungkan di saat yang sama.

Raid yang lebih personal dan intens ini jauh lebih baik daripada kesan perang bombastis skala global di seri Modern Warfare lawas.

Namun setidaknya, kami mengapresiasi pendekatan lebih personal dari sisi misi yang ia tawarkan. Tidak terjebak dengan situasi perang bombastis yang sempat terjadi di Modern Warfare 3, Infinity Ward lebih mendefinisikan seri Reboot ini lewat sensasi Raid – mode sergap di ruang lebih kecil yang menuntut kecepatan reaksi dan presisi tembakan saat Anda memburu target utama Anda. Bergerak pelan, dari pintu ke pintu, menggunakan NVG untuk memanfaatkan keuntungan strategis dalam kegelapan, bunyi senjata api dengan silencer yang “merdu”, hingga lubang peluru penuh darah di wajah target tembak Anda memang terasa lebih menggugah. Ini tentu saja pendekatan berbeda dibandingkan seri lawas yang sudah masuk dalam skala perang global penuh pesawat jet, bomb atom, dan tank. Ini adalah arah baru yang kami sambut dengan tangan terbuka.

Maka, seperti yang kami sebut di sub-judul di atas, pengalaman single-player Modern Warfare Reboot memang terasa seperti pisau “realita” yang tumpul. Memang ada beberapa cut-scene menggugah hati, namun di sisi lain, keputusan setengah hati untuk “mengatur” apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan gamer sembari berkoar-koar soal moral kompas abu-abu yang diklaim akan hadir di sini, justru membuat game ini berakhir membingungkan. COD: Modern Warfare Reboot memang memotret lebih banyak sisi gelap dan berat perang, namun pada akhirnya, tidak seberat, tidak segelap, dan tidak serealistis yang mereka janjikan dan Anda bayangkan.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

February 26, 2021 - 0

Review NBA 2K21 (Next-Gen): Nombok Dong! Nombok Dong!

Anda yang secara aktif mengikuti JagatPlay sepertinya sudah mengetahui bagaimana…
February 25, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Hardware): Si Bongsor yang Buas!

Berapa banyak dari Anda yang masih ingat soal kekhawatiran tidak…
February 20, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Software): Indah, Elegan, Cepat!

Diskusi terkait konsol generasi terbaru memang lebih banyak didominasi soal…
February 17, 2021 - 0

Menjajal BETA Guilty Gear Strive: Siap Menjadi yang Terbaik!

Seperti halnya posisi Codemasters di dunia game racing, nama Arc…

Nintendo

March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.