Review Death Stranding: Batas Tipis Gila dan Jenius!

Reading time:
November 1, 2019

Kekuatan Decima Engine

Death Stranding jagatplay 37
Kualitas visualisasi yang ditawarkan Decima Engine menghasilkan presentasi yang memesona.

Setelah melewati proses pencarian engine selama berbulan-bulan, keputusan Hideo Kojima untuk memilih dan menggunakan Decima Engine dari Guerrilla Games, engine sama yang digunakan di Horizon Zero Dawn memang salah satu keputusan terbaik yang bisa ia ambil. Karena dari sisi presentasi, ia tampil begitu memesona.

Sebagai sebuah game yang akan lebih banyak diisi dengan sistem pengantaran barang yang akan membuat Anda “bertarung” dengan medan alam yang harus Anda lewati (akan kita bicarakan nanti), membangun sebuah dunia yang secara visual memesona tentu saja menjadi bagian yang esensial dari Death Stranding. Sebuah konsep yang harus diakui, mereka eksekusi dengan manis. Hadir dengan pemandangan-pemandangan memanjakan mata di sepanjang perjalanan, dari gunung super tinggi, sekedar jurang yang curam, salju yang begitu tebal, sinar matahari yang terik, sungai yang mengalir deras, hingga air terjun luar biasa besar yang datang dengan energi kinetik super menyeramkan, membuat perjalanan Anda menjadi lebih bisa ditoleransi. Apalagi Death Stranding juga berhasil membuat setiap darinya tidak sekedar jadi pemandangan, melainkan tantangan yang di satu titik, harus Anda lalui.

Kualitas visual memanjakan sama juga bisa Anda lihat via model karakter yang ia usung, terutama karakter-karakter yang memang punya andil besar dalam cerita. Kemampuan Decima Engine untuk memotret wajah Mads Mikkelsen, Del Toro, hingga Norman Reedus dengan begitu akuratnya, hanyalah permukaan dari apa yang berhasil mereka capai. Berbeda dengan Fox Engine di seri Metal Gear sebelumnya yang memang juga tak kalah memesona dari sisi model karakter, Decima Engine sepertinya lebih mampu memproyeksikan emosi dengan baik lewat akurasi gerak ekspresi wajah yang memesona. Lewat kesenduan gerak mata, bibir, hingga sekedar kerut wajah yang muncul, Anda bisa melihat dan merasakan jelas emosi seperti apa yang mengemuka di setiap scene yang muncul. Sesuatu yang pantas untuk diacungi jempol.

Death Stranding jagatplay 214
Ekspresi wajah membuat begitu banyak scene lebih kuat dan berkesan.
Death Stranding jagatplay 107
Jangan berharap Anda akan bertemu dengan banyak orang di sepanjang proses eksplorasi Anda. Berita baiknya? Kekosongan dunia Death Stranding adalah sesuatu yang sejalan dengan lore yang ia usung.

Namun sayangnya, ekspresi wajah ini hanya tercermin jelas lewat karakter-karakter ikonik dalam cerita saja. Sementara cameo lain seperti Conan O’Brien, Edgar Wright, hingga Sam Lake, kesemuanya muncul sebagai “penduduk” settlement yang hanya akan menyambut Anda via hologram saja. Akurasi model karakter yang realistis memang masih konsisten, namun harus diakui, tidak terasa memaksimalkan potensi Decima Engine itu sendiri. Walaupun harus diakui, keputusan seperti ini memang sejalan dengan lore dunia Death Stranding yang memotret ketakutan para manusia-manusia ini untuk keluar dari zona aman dan nyaman mereka. Konsekuensi lain? Anda tidak akan bertemu dengan banyak NPC di sepanjang jalan, bahkan ketika Anda “singgah” di beberapa lokasi yang mendapatkan julukan kota sekalipun. Yang disajikan kepada Anda hanyalah hologram karakter yang bertanggung jawab di sana sekaligus data jumlah penduduk yang menghuninya, itu saja.

Pujian tentu saja pantas diarahkan kembali kepada sosok Yoji Shinkawa, yang untuk kesekian kalinya, berhasil meracik karakter-karakter dengan desain yang tidak hanya cocok dengan dunia yang ia tawarkan tetapi juga keren di saat yang sama. Ada ciri khas perangkat mekanikal yang memesona di sana, dari sekedar exoskeleton yang bisa digunakan Sam untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang Porter hingga desain dan cara kerja Odradek yang seperti makhluk hidup namun mekanikal di saat yang sama. Desain kostum karakter pendukung dari Fragile dengan pakaian hitam ketat hingga Higgs dengan topeng emas yang juga memiliki desain Odradek yang mengusung warna unik juga menguatkan kesan tersebut. Kesemuanya digabung dengan elemen misteri dari monster-monster BT yang terasa dan terlihat organik di saat yang sama.

Karena harus diakui, desain yang diusung BT ini seolah menjadi “rasionalisasi” mengapa dunia Death Stranding bergerak dan berjalan seperti seharusnya. Kita tidak sekedar bicara soal bayangan-bayangan yang melayang dengan tali panjang bak tali pusar yang entah berakhir kemana, tetapi juga sang monster yang muncul untuk “mengeksekusi” Anda jika Anda berakhir tertangkap. Hadir dalam beragam bentuk yang mengesankan kuat bahwa mereka tidak berbagi dunia yang sama dengan kita, ia juga mengubah dunia di sekitarnya. Lumpur hitam nan tebal tiba-tiba muncul dalam bentuk sebuah kolam raksasa, bangunan yang hancur tiba-tiba mengemuka kembali, hingga hukum fisika seperti gravitasi seolah tak lagi berlaku di beberapa titik. Di hadapan Anda adalah sebuah makhluk yang sepertinya hendak mensimulasikan gerak binatang bumi namun bersikap sebaliknya. Kerennya lagi? Kesemuanya seolah diatur oleh sebuah entitas berukuran masif yang seolah jadi akumulasi semua sisi misteri yang Anda hadapi.

Death Stranding jagatplay 21
Desain para BTs juga tampil bak horror yang membuat banyak pertanyaan muncul sembari memicu rasa takut dan cemas.

Sementara dari sisi musik, Anda tidak perlu lagi meragukan pengalaman seperti apa yang Anda dapatkan di sini. Sejak teaser awal pengenalan Death Stranding, Kojima sepertinya sudah memastikan akan membalut game-game ini dengan musik-musik keren yang sepertinya tidak akan pernah familiar bagi Anda jika ia tidak pernah memperkenalkannya kepada publik. Musik dari Low Roar dan Silent Poets mendominasi pilihan lagu Kojima di Death Stranding. Namun tidak sekedar muncul sebagai musik yang bisa Anda nikmati di Private Room saja, ia juga mengintegrasikannya ke dalam gameplay untuk membuat beberapa momen terasa lebih dramatis.

Pertanyaannya sekarang, apakah strategi ini berhasil? Kami harus menjawab iya dan tidak di saat yang sama. Iya karena emosi kami berhasil tergerak di dua momen pertama musik ini muncul, terutama saat Silent Poets mengalun saat Anda tiba di tujuan yang sejak awal, memang terasa begitu jauh dan mustahil. Tidak? Karena penggunaannya terasa berlebihan. Kojima menyuntikkan beberapa momen setelahnya dengan berusaha memanfaatkan momen yang sama, dimana sebuah lagu mengalun ketika Anda masuk ke area tertentu, yang kesemuanya didominasi lagu dari Low Roar. Ada dua masalah di sini: pertama, karena format ini terlalu sering digunakan, ia kehilangan impact yang seharusnya terlepas dari kualitas lagu yang tetap asyik untuk didengarkan. Kedua? Ia mulai terasa seperti sebuah “perintah” bahwa Anda harus merasakan sesuatu saat lagu mengalun. Dan ketika Anda tidak merasakan apapun? Lagu ini jadi “beban” seolah Anda tidak menikmati Death Stranding dengan seharusnya.

Death Stranding jagatplay 158
Suntikan musik keren yang dipilih Kojima untuk menciptakan efek yang dramatis memang bekerja dengan baik di beberapa lagu awal. Namun karena ia terlalu sering dilakukan, pelan tapi pasti, strategi ini mulai kehilangan impact yang dicari.

Maka dari sisi presentasi, Death Stranding di Playstation 4 Pro sepertinya jadi salah satu pengalaman game dengan visualisasi memanjakan mata yang pernah kami cicipi, terutama bicara bagaimana caranya menangani desain dunia yang harus Anda lewati. Hingga pada batas, kami tidak akan ragu merekomendasikan kepada Anda untuk mulai melirik sebuah televisi 4K HDR untuk menikmatinya secara optimal. Pada akhirnya, Death Stranding terasa seperti sebuah game dengan dunia yang istimewa. Di satu sisi misterius, di sisi yang lain indah. Dua kombinasi yang fantastis.

Menyatu? Menyatu!

Death Stranding jagatplay 271
Hindari spoiler sebisa mungkin pada saat Death Stranding tiba di pasaran. Percaya atau tidak, salah satu kenikmatan puncaknya adalah melihat bagaiamana semua elemen kompleks yang ia tawarkan di sisi cerita menyatu dan berakhir bisa dimengerti di akhir.

Tenang saja, kami tidak akan cukup gila untuk berbagi kepada Anda spoiler yang memang, akan mengacaukan pengalaman dan rasa apresiasi Anda terhadap Death Stranding. Namun kami yakin bahwa sebagian besar pertanyaan akan mengarah pada satu hal yang sama – apakah semua konsep yang Anda temukan di ragam trailer dan screenshot akan berakhir dengan sesuatu yang secara rasional, bisa dicerna? Tenang saja, dengan penuh rasa optimisme, kami menjawab “Iya”. Walaupun harus diakui, dengan kompleksitas tema yang ia usung dan beragam hubungan yang tercipta, ada kebutuhan untuk memerhatikan dan mendengar saksama. Sedikit terdistraksi saja? Anda bisa kehilangan arah soal apa yang sebenarnya terjadi.

Karena harus diakui, konsep Death Stranding yang ditawarkan Kojima tidak hanya mengakar pada science fiction saja. Bahwa terlepas dari semua teknologi yang bisa digunakan Sam, bagaimana mereka berbicara soal konsep Chiral, persamaan fisika terkait ruang dan waktu yang tercetak di kunci Q-Pid yang muncul bak kalung yang selalu dibawa Sam, atau teknologi seperti Chiral Printer yang sebenarnya tak ubahnya teknologi 3D Printing dalam skala yang jauh lebih mutakhir, Death Stranding ternyata mengkombinasikan beberapa elemen yang lain. Bersama dengan ilmu pengetahuan ini, diskusi terkait mitologi, agama, dan filosofi juga membaur ke dalam cerita, menghasilkan lapisan-lapisan cerita yang juga diarahkan dan dilihat sebagai kritik sosial soal apa yang terjadi di dunia nyata saat ini.

Belum cukup buruk? Kompleksitas ini juga diperparah dengan begitu banyaknya istilah yang harus Anda kenali dan pahami sejak awal cerita untuk bisa mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi. Karena sebagian besar dari mereka tidak akan dijelaskan berulang kali, hanya muncul sekali dalam percakapan atau cut-scene, dan langsung meminta Anda mencernanya dengan baik. Kita bicara soal BB, BT, Voidouts, UCA, Homo Demens, Death Stranding, EE, Ha, Ka, Beach, Chiral, Quipu, Q-Pid, hingga bagaimana cara dunia pasca-Death Stranding bekerja. Masih belum cukup buruk? Ada banyak informasi soal lore dunia yang ia usung berakhir ditawarkan dalam informasi berbasis text yang tersebar lewat dua menu – DATA dan INTERVIEW yang akan memberikan insight jauh lebih jelas.

Tetapi pada akhirnya, selama Anda memerhatikan dengan jelas apa yang terjadi, Anda akan bisa menangkap bagaimana semua konsep ini akan jatuh di titik yang sama, dengan informasi yang menyatu dan bisa ditangkap dengan baik. Namun seperti sebagian besar game Jepang, apalagi jika Anda sempat menikmati game-game Hideo Kojima di masa lalu, Anda akan bertemu dengan barisan eksposisi yang semakin intens seiring dengan semakin dekatnya Anda dengan akhir cerita yang ada. Penjelasan demi penjelasan ini akan disajikan dalam bentuk cut-scene, beberapa datang dalam informasi ala Codec di Metal Gear, dan akan memberikan Anda informasi yang dibutuhkan untuk memahami apa yang terjadi dengan Death Stranding. Tentu saja, Anda bisa mengantisipasi beragam twist ala Kojima.

Sekali lagi, bersama dengan review ini yang seharusnya dirilis setidaknya satu minggu lebih cepat dari hari rilis resmi Death Stranding, kami akan sangat menyarankan Anda untuk menghindari spoiler sekuat yang Anda bisa, bahkan jika Anda harus menghindari internet dan situs sosial media sekalipun. Kami yakin bahwa kepuasan Anda menikmati game yang bisa berakhir menyita puluhan jam waktu Anda ini akan jauh lebih optimal, terutama dari sisi cerita, jika Anda masuk “buta” dan menemukan segala sesuatunya sendiri. Ini akan menjadi bagian paling esensial. Jadi sedikit berhati-hatilah dengan internet sampai Anda menyelesaikannya seorang diri.

Pages: 1 2 3 4 5
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…