Review Death Stranding: Batas Tipis Gila dan Jenius!

Reading time:
November 1, 2019

Likes – Berguna? Sebuah Eksperimen Sosial?

Death Stranding jagatplay 140
Seperti hendak merefleksikan apa yang terjadi di dunia nyata, jumlah Likes di Death Stranding juga tidak memiliki efek atau kegunaan apapun.

Salah satu yang menarik dari Death Stranding adalah bagaimana beberapa di antara elemen yang ditawarkan Kojima di satu sisi, memang bisa dilihat sebagai kritik sosial terhadap masalah-masalah yang pada saat review ini ditulis, memang relevan. Bahwa Anda seperti memandang masalah sosial ini dari kacamata seorang Hideo Kojima, dari masalah terpecahnya Amerika Serikat, soal koneksi antar manusia yang kini memang semakin sulit untuk dilakukan, hingga bagaimana Likes dalam bentuk ikon jempol berakhir menjadi sebuah resource yang begitu esensial di dunia post-apocalyptic ini. Elemen terakhir ini memang unik dan terasa seperti sebuah eksperimen sosial yang menarik untuk dibicarakan.

Mengapa? Karena seperti halnya Likes yang Anda dapatkan di situs sosial media seperti Facebook atau Instagram, jumlah Likes di dalam Death Stranding juga tidak memiliki banyak makna. Tidak seperti sinyal awal yang mengesankan bahwa angka ini bisa dijadikan sebagai resource untuk membeli atau menggunakan sesuatu, Likes di game ini benar-benar tidak terasa signifikan. Jika ia datang dari para NPC, ia menjadi resource untuk “kenaikan level” Sam, khususnya di bagian Bridge Links yang tidak banyak membantu perjalanan Anda. Sementara jika datang dari player lain, ada kemungkinan Anda akan menemukan lebih banyak menemukan struktur user yang sama di masa depan. Setidaknya ini teori kami, mengingat tidak ada penjelasan eksplisit sama sekali untuk kegunaan “Likes” ini.

Tetapi pada akhirnya, bahwa seperti halnya perjuangan banyak orang yang mengekspresikan sisi narsistik mereka di ragam situs sosial media, selalu ada “kepuasan” tertentu ketika Anda mendulang jumlah Likes dari apapun yang Anda tinggalkan di dunia Death Stranding dan berakhir terdampar di dunia orang lain. Di awal, Likes ini menjadi sebuah simbolisasi bahwa hal-hal yang Anda tinggalkan memang berguna untuk orang lain. Dimana ia menjadi semacam kuantifikasi rasa apresiasi dari semua kerepotan yang sudah Anda lewati. Namun pelan tapi pasti, melihat ia terus meningkat pelan tapi pasti, ada rasa adiksi untuk berusaha mendulangnya terus menerus. Apalagi beberapa struktur masif yang butuh pengorbanan waktu dan tenaga untuk dirampungkan juga akan otomatis memberikan Anda jumlah Likes sesuai dengan berapa banyak orang yang menggunakannya.

“Reward” lain dari jumlah Likes ini berujung pada detail user yang bisa Anda akses untuk melihat gamer-gamer mana saja yang sempat berhubungan dengan Anda, baik ketika Anda menggunakan struktur mereka atau sebaliknya. Di barisan nama user tersebut, Anda bisa memeriksa jumlah Likes yang didapat oleh masing-masing user, yang biasanya disimpulkan sebagai Porter-Porter yang lebih aktif membangun equipment atau struktur untuk gamer lain alih-alih sekedar merampungkan cerita begitu saja. Namun sekali lagi, ini mungkin satu-satunya dimana jumlah Likes bisa “mempengaruhi” persepsi Anda terhadap Death Stranding. Sisanya? Sekedar jadi ajang pamer mumpuni soal karir Anda sebagai Porter di game ini.

Konsep seperti ini tentu saja mengejutkan. Mengapa? Karena ini membuat semua aksi Anda pada saat “membantu” gamer lain dengan meninggalkan struktur tertentu atau sebaliknya, didasarkan pada motivasi yang lebih murni. Anda tidak melakukannya karena Anda ingin mengejar reward tertentu yang akan bisa mempermudah perjalanan Anda, dari ekstra equipment, senjata, atau resource material yang lain. Anda melakukannya karena sekedar ingin dan movitasi altruistik tersebut bertahan murni karena balas jasa yang Anda dapat hanyalah sebuah angka Likes yang pada akhirnya, tidak memiliki makna dan fungsi banyak. Sebuah kondisi yang menarik.

Kesimpulan

Death Stranding jagatplay 267
Kami dengan tanpa ragu akan merekomendasikan Death Stranding untuk Anda, terlepas dari apapun preferensi genre Anda atau apakah Anda mencintai produk Kojima atau tidak di masa lalu. Anda mungkin berakhir tidak menikmati semua proses antar-mengantar kargo yang ia usung, apalagi jika Anda datang dengan ekspektasi tertentu, namun sulit untuk menyangkal bahwa game ini akan menawarkan sesuatu yang baru, berbeda, dan unik hingga kami yakin Anda belum pernah bertemu dan mencicipi game seperti ini sebelumnya.

Dengan semua kombinasi elemen dan inovasi yang ia suntikkan, Death Stranding adalah sebuah game yang secara menakjubkan, belum pernah kami jajal sebelumnya. Pengalaman ia tawarkan sebegitu uniknya hingga Anda yang sudah makan asam garam video game selama puluhan tahun sekalipun akan berakhir takjub bahwa di satu titik, di tahun 2019 ini, ada sebuah video game yang tampil berbeda dibandingkan yang lain. Kita tidak hanya bicara soal struktur gameplay yang mengkombinasikan elemen beresiko Fetch Quest, inovasi yang membuatnya menarik, dan gameplay aksi yang juga mengikutinya saja, tetapi juga bagaimana ia menawarkan sebuah cerita yang kompleksitasnya terasa membingungkan dan memuaskan di saat yang sama, sesuatu yang belum pernah disajikan oleh video game manapun. Di antara semua konsep ini, jejak-jejak seorang Hideo Kojima memang mengalir jelas, membuat Death Stranding bergerak di antara batas tipis antara gila dan jenius. Namun jika harus memilih, kami sepertinya lebih condong ke arah “jenius” untuk mendefinisikan ragam gebrakan yang ia usung.

Namun sayangnya, Death Stranding bukanlah sebuah game yang sempurna. Di luar eksekusi hadirnya musik untuk menciptakan momen dramatis yang justru kontra-produktif karena frekuensi gunanya, ia juga memuat dua masalah besar di mata kami. Pertama, Sam sebagai karakter. Terlepas dari wajah Norman Reedus yang dijadikan basis, Sam harus diakui berujung karakter yang tidak menarik. Ada banyak potensi yang sebenarnya bisa “dimainkan” untuk membuat ia jadi karakter yang lebih emosional atau relatable, namun terlewat begitu saja. Hasilnya? Anda bertemu dengan karakter yang terasa datar dan hambar, sesuatu yang bertolak belakang dengan karakter-karakter pendukung lain yang justru lebih mampu memicu reaksi dan emosi. Kelemahan kedua? Penggunaan cut-scene pendek untuk aktivitas Sam yang di awal terlihat keren, namun mulai menyebalkan di akhir. Hampir semua aktivitas dimulai dengan cut-scene pendek, dari sekedar mandi, keluar dari Private Room, hingga saat Anda menyerahkan kargo sekalipun. Kami tidak pernah menggunakan tombol “skip cut-scene” sebanyak kami melakukannya di Death Stranding.

Tetapi di luar kekurangan tersebut, kami dengan tanpa ragu akan merekomendasikan Death Stranding untuk Anda, terlepas dari apapun preferensi genre Anda atau apakah Anda mencintai produk Kojima atau tidak di masa lalu. Anda mungkin berakhir tidak menikmati semua proses antar-mengantar kargo yang ia usung, apalagi jika Anda datang dengan ekspektasi tertentu, namun sulit untuk menyangkal bahwa game ini akan menawarkan sesuatu yang baru, berbeda, dan unik hingga kami yakin Anda belum pernah bertemu dan mencicipi game seperti ini sebelumnya. Pengalaman yang akan semakin optimal jika Anda berhasil menghindari spoiler dari sisi cerita hingga Anda menyelesaikan game ini sendiri. What an amazing experience!

Kelebihan

Death Stranding jagatplay 133
Kami tidak akan heran jika konsep “Strand” yang ditawarkan Death Stranding akan jadi inovasi baru yang akan diikuti banyak game di masa depan, tentu dengan gaya mereka sendiri.
  • Kualitas visualisasi memesona
  • Cerita kompleks yang menyatu di akhir
  • Fragile
  • Gameplay antar-mengantar kargo yang belum pernah ada sebelumnya
  • Genre “Strand” yang menawarkan konsep multiplayer kooperatif unik
  • Algoritma yang membuat sebagian besar objek yang mampir ke dunia Anda memang Anda butuhkan, pada saat offline sekalipun
  • Menu dan navigasi yang memfasilitasi hampir semua kebutuhan Anda secara instan, terutama dari urusan menyusun dan membawa kargo
  • Pilihan musik
  • Desain karakter dan monster yang super keren

Kekurangan

Death Stranding jagatplay 179
Sam, di sisi lain, justru terkesan datar dan hambar.
  • Alunan musik untuk momen dramatis terlalu sering digunakan, jadi kehilangan impact
  • Sam terlalu datar dan hambar
  • Terlalu banyak cut-scene cut-scene kecil di semua aktivitas

Cocok untuk gamer: pencinta game-game Hideo Kojima, yang ingin merasakan sebuah sensasi game yang belum pernah ada sebelumnya.

Tidak cocok untuk gamer: yang menginginkan sensasi aksi yang lebih kental, sulit untuk menangkap garis cerita yang kompleks

Pages: 1 2 3 4 5
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…