JagatPlay: 25 Momen Video Gaming Yang Mendefinisikan Satu Dekade (2010 – 2019)

Reading time:
January 15, 2020
  1. Gairah Esports (2011)

Beberapa belas tahun yang lalu, esports adalah sebuah lelucon besar. Terlepas dari lahirnya game kompetitif super seru seperti Starcraft misalnya, hanya beberapa turnamen di beberapa negara spesifik seperti Korea Selatan. Namun segala sesuatunya berubah dalam satu dekade terakhir, yang dipicu oleh turnamen USD 1 juta yang diselenggarakan Valve untuk mempopulerkan DOTA 2 pertama kalinya. Ketika hadiah tampil sebegitu besar, mengalahkan turnamen olahraga sekalipun, popularitas esports langsung meroket. Mata awam melihat, scene esports dilihat sebagai ruang uang potensial bagi begitu banyak vendor sponsor, dan ia terus tampil prestisius hingga saat ini. Menariknya lagi? Scene esports terus tampil megah dengan turnamen tahunan yang tidak lagi sekedar menawarkan uang hadiah luar biasa, tetapi juga teknologi siaran dan ukuran venue yang kian meraksasa. Sebuah fenomena yang tidak hanya terjadi di luar, tetapi juga di Indonesia.

  1. Popularitas Mobile Gaming di Indonesia

Apakah orang awam yang tidak tertarik pada video game memang tidak menyukai media interaktif yang satu ini? Ataukah semua orang sebenarnya mengakar pada sifatnya sebagai Homo Ludens – “manusia yang bermain” dan ketertarikan pada video game semata-mata hanya karena masalah paparan saja? Apapun itu, satu yang tidak terbantahkan, jumlah gamer di Indonesia di dekade ini sepertinya melonjak tinggi berkat popularitas mobile gaming, terutama untuk game-game kompetitif seperti Mobile Legends dan PUBG Mobile. Bukan perkara sulit untuk melihat anak-anak muda, remaja wanita, hingga bapak-bapak tua berkumpul bersama di satu ruang untuk menguji kemampuan gaming mereka, baik berkompetisi ataupun berkolaborasi. Sebuah fenomena yang mungkin tidak pernah akan terpikirkan bisa muncul di Indonesia jika hanya mengandalkan popularitas handheld, konsol, atau PC belaka di masa lalu.

  1. Mewabahnya Microtransactions

Sebuah fenomena yang tidak terhindarkan, menyedihkan, dan mengkhawatirkan di saat yang sama dalam satu dekade terakhir. Bahwa atas nama untuk mendulang ekstra uang dari game yang sudah mereka jual dengan harga penuh, video game AAA meyuntikkan microtransactions di dalamnya. Bahwa dengan menggunakan ekstra uang nyata, ada ekstra fitur atau peningkatan performa di luar sekedar kosmetik yang bisa dinikmati gamer. Fenomena ini memang bisa dirasionalisasi selama microtransactions ini terikat hanya pada item kosmetik atau tersedia di game-game free to play saja. Kekhawatiran justru muncul pada saat konsep yang sama diintregrasikan di dalam game berbayar, mempengaruhi performa, hingga di skenario terburuk – menjadi pondasi bagaimana sang developer merancang game dan pengalaman bermain yang ada. Satu yang menarik, terlepas dari resistensi dan kritik yang megemuka, data terus memperlihatkan bagaimana microtransactions tidak sulit menyumbang pendapatan bersih hingga ratusan juta USD per tahun untuk beberapa judul game. Ini adalah praktik yang sepertinya tetap akan kita temukan terlepas dari pergantian dekade yang ada.

  1. Final Fantasy XIV Comeback! (2013)

Sebuah “kisah kepahlawanan” bukanlah sebuah kalimat yang hiperbola untuk menjelaskan apa yang berhasil dicapai Square Enix dengan Final Fantasy XIV dan Final Fantasy XIV: A Realm Reborn. Ketika publisher lain biasanya akan langsung angkat tangan, membiarkan produknya tewas, dan beralih ke produk selanjutnya dengan harapan bisa menawarkan daya tarik lebih baik dari produknya yang jelas gagal dari sisi penjualan dan resepsi fans, Square Enix justru berkomitmen untuk memperbaikinnya. Final Fantasy XIV versi awal ditarik, dirombak, dan disempurnakan dalam proses yang memakan waktu hingga tahunan. Ada komitmen jelas untuk memastikan bahwa judul yang satu ini memang pantas menyandang Final Fantasy di dalamnya. Para eksekutif mereka minta maaf di depan publik, membungkukkan badan sembari menanggung rasa malu. Pada akhirnya, semuanya terbayar manis. Bagian terbaiknya tidak hanya pada fakta bagaimana FF XIV kini berhasil menjadi salah satu game MMORPG terpopuler di dunia saja, tetapi bagaimana mereka mengintegrasikannya ke dalam lore game itu sendiri.

Tags:

Pages: 1 2 3 4 5 6 7
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

December 28, 2020 - 0

Review Cyberpunk 2077: Terjebak Ilusi Korporasi!

Game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini, tidak ada…
December 15, 2020 - 0

Preview Cyberpunk 2077: Berandal Masa Depan!

Menyebutnya sebagai game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini…
December 4, 2020 - 0

Review Assassin’s Creed Valhalla: Saga Sang Penjarah!

Tidak lagi mengusung sistem rilis tahunan dan memberikan sedikit ruang…
December 3, 2020 - 0

Preview Immortals Fenyx Rising: Dewa dan Monster!

Perhatian untuk proyek yang satu ini memang terhitung besar ketika…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…