JagatPlay: 100 Game Terbaik Satu Dekade (2010 – 2019)

Reading time:
December 5, 2019
  1. Final Fantasy XIV: A Realm Reborn (2013)

Bukan lagi sekedar sebuah video game, tetapi sebuah inspirasi bagaimana sebuah developer alih-alih menyerah, justru berjuang setengah mati untuk mengembalikan kepercayaan gamer. Bersama dengan kualitas dan update konten yang selalu memuaskan penggemarnya, inilah alasan mengapa Final Fantasy XIV: A Realm Reborn masuk ke dalam daftar game terbaik 1 dekade kami. Bayangkan saja, sebuah game yang dihujat dan hampir mati diputuskan untuk diracik ulang kembali dari awal sembari mendengarkan feedback keras dari gamer. Dunia yang terlahir kembali muncul bak kupu-kupu yang terbang keluar dari kepompong. Kerennya lagi? Square Enix juga mampu melebur situasi ini untuk menciptakan sebuah skenario cerita yang solid dan menggugah, yang dihadirkan dalam bentuk FMV yang super keren.

  1. Super Mario 3D World (2013)

Pernahkah Anda berhadapan dengan sebuah game platformer yang begitu seru dan sempurna, hingga Anda bingung cara kerja otak kreatif yang berdiri di belakangnya? Hal inilah yang kami rasakan ketika mencicipi Super Mario 3D World di konsol gagal milik Nintendo, Wii U. Bahwa terlepas dari konsep sederhana Mario yang kini sekedar diperkuat dengan kostum kucing yang bisa membuat Anda melompat lebih tinggi dan memanjat ragam terrain yang ada, ia ternyata bukanlah sekedar game platformer yang menyenangkan dan fun. Seiring dengan semakin banyak dunia yang Anda buka, setiap darinya hadir dengan desain mengagumkan, unik, cerdas, dan menawarkan tantangan yang berbeda-beda. Game anak-anak? Anda sungguh belum pernah menyentuh dunia terakhir Super Mario 3D World yang siap membuat Anda menitikkan air mata. Bukan karena sedih, tetapi sulitnya minta ampun.

  1. Fallout: New Vegas (2010)

Ada alasan mengapa Obsidian digadang sebagai salah satu developer game RPG barat terbaik di industri game. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka merupakan otak di balik Fallout: New Vegas, franchise yang selama ini identik dengan nama Bethesda. Ada level kualitas penulisan cerita dan karakter yang lebih solid ketika Obsidian mengusung Fallout: New Vegas, apalagi ketika Anda membandingkan apa yang ditawarkan Fallout 4 dan Fallout 76. Dunia yang terlihat luluh berantakan, cita rasa Fallout yang mengalir kuat, karakter-karakter menarik, serta momen-momen super memorable membuatnya pantas digadang setidaknya, sebagai seri Fallout terbaik satu dekade ini.

  1. Rayman Legends (2013)

Ketika video game terus bergerak untuk menawarkan sesuatu yang lebih dewasa, lebih serius, lebih realistis, Ubisoft sempat mengalihkan resource untuk meracik salah satu game platformer terbaik dekade ini – Rayman Legends. Karakter yang satu ini memang tidak bisa dibilang sebagai “ikon yang populer”. Namun cara Ubisoft menangani Rayman Legends yang tidak hanya penuh warna, tetapi juga desain level fantastis dan musik pengiring yang pantas untuk diacungi jempol berhasil melahirkan sebuah judul yang akan diingat sepanjang masa, terutama mereka yang sempat menjajalnya. Mereka yang sempat menyentuh kontroler dan mencicipi aksi gerak cepatnya yang selalu genting akan langsung jatuh hati.

  1. Assassin’s Creed 2: Brotherhood (2010)

Di seri pertamanya, ia adalah sebuah uji konsep dengan konten yang terbatas dan begitu banyak limitasi. Ambisi Ubisoft untuk membuatnya tampil sebagai game AAA open-world memesona yang kemudian membentuk identitas Assassin’s Creed yang kita kenal selama ini dimulai dari sang seri kedua – Assassin’s Creed 2. Hadir dengan karakter protagonis yang keren – Ezio yang kemudian kisahnya sebagai Master Assassins bergerak mendalam dari satu seri ke seri lainnya, Assassin’s Creed 2 menjadi manifestasi ide dan inovasi yang pantas untuk diacungi jempol. Bagaimana sebuah game dengan dunia besar yang didasarkan pada peradaban masa lampau, kombinasi tokoh historis, aksi pertarungan yang sederhana namun diusung animasi memukau, dan salah satu kisah cinta paling memilukan berhasil menciptakan salah satu seri game open world terbaik yang pernah ada. Basis itu kemudian menyempurna dengan kelanjutan kisah Ezio ke Brotherhood yang mulai mengeksplorasi konsep Master Assassins ini ke dalam gameplay, sembari memperjelas konflik utama yang akan dihadapi Desmond.

  1. Mario Kart 8 (2014)

Berapa banyak game di luar sana yang dibangun sedemikian rupa, hingga ia bisa dinikmati orang-orang non-gamer langsung dengan aura kompetitif yang tidak pernah gagal mengundang gelak tawa dan juga ketegangan tersendiri? Kombinasi kejeniusan seperti ini bisa dihitung dengan jari, namun salah satunya berhasil ditawarkan oleh seri game racing kart fun milik Nintendo – Mario Kart 8. Hingga pada batas, ia bisa jadi salah satu alasan melirik Wii U di kala itu yang sudah dicap sebagai produk gagal. Visualisasi yang memanjakan mata, pendekatan kartun yang masih kental, track yang fantastis, serta proses balancing item drop yang selalu membuat balapan menjadi lebih menggila lewat faktor ketidakpastian yang selalu konstan ada membuat Mario Kart 8 berujung fantastis.  Apalagi ketika Anda mulai berkompetisi secara online dan menemukan banyak gamer di luar sana yang siap membuat kendaraan balap yang sudah Anda gonta-ganti ini, terasa tak ubahnya gerobak mie ayam melawan sebuah mobil Ferrari.

  1. Cuphead (2017)

Sebuah kerja tangan yang melambangkan komitmen dan konsistensi tak berkesudahan, adalah kalimat yang akan kami pilih untuk membawa Cuphead masuk ke dalam toplist 100 game terbaik satu dekade kami. Karena bukan sekedar soal kerja keras menghadirkan kualitas visualisasi ala kartun lawas saja yang membuat Cuphead memesona, tetapi juga kombinasi beragam elemen yang membuatnya tampil sebagai game yang sesungguhnya, memang fantastis di akarnya. Gameplay shooter dua dimensi yang menawarkan pendekatan kesulitan ala seri Souls menjadi basis yang kemudian dikombinasikan dengan sisi presentasi audio ala musik Jazz yang seolah mengikat kesemuanya menjadi satu kombinasi yang manis. Anda bisa mengalahkan atau dikalahkan Cuphead di akhir, namun hati Anda akan bertahan pada semua daya tarik yang ia tawarkan.

  1. This War of Mine (2014)

Di video game, perang adalah permainan. Bahwa hampir sebagian besar game bertemakan perang yang Anda cicipi selalu memosisikan Anda sebagai pahlawan tanpa tanding yang kemudian tak sulit untuk menghabisi ratusan pasukan musuh dengan ragam senjata api di tangan. Bahwa perang secara konsep tereduksi ke dalam puing-puing, ledakan, dan peluru yang tembus ke kepala musuh secara memuaskan. This War of Mine dengan pendekatan yang lebih menonjok hati, “menikmati” perang dari sisi orang-orang tak bersalah yang berusaha bertahan hidup di tengahnya. Berjuang mencari resource, memprioritaskan kemana resource tersebut akan menuju, mengabaikan rasa belas kasihan dan moral atas nama bertahan hidup, hingga menghalalkan segala cara untuk bisa memenuhi kebutuhan yang nyaris standar akan membuat Anda secara konstan, mempertanyakan siapa sebenarnya Anda. Karena pelan tapi pasti, mengingat situasinya yang begitu berat, apa yang Anda pilih sesungguhnya merefleksikan sebuah skenario terburuk jika Anda terperangkap di situasi yang sama di dunia nyata.

  1. Titanfall 2 (2016)

Veteran Call of Duty bergabung ke dalam satu studio yang sama dan kemudian meracik genre andalan mereka – FPS, ada alasan mengapa Respawn Entertainment tampil sebagai studio “baru” yang sepak terjangnya begitu diikuti. Apalagi game pertama mereka yang diberi nama Titanfall berujung menawarkan sebuah skenario perang epik dengan ekstra mecha di dalamnya. Seri pertama yang hanya menawarkan mode multiplayer tersebut memang mengandung banyak potensi yang butuh dieksplorasi lebih jauh. Puncaknya terletak di Titanfall 2 yang walaupun basis konsep pertempuran mechanya tetap dipertahankan, namun kini mengusung mode campaign alias cerita. Hasilnya? Benar-benar mengagumkan. Titanfall 2 sepertinya pantas digadang sebagai satu dari sedikit game FPS dalam satu dekade ini yang tidak hanya menawarkan cerita dan karakter yang menarik, tetapi juga mekanik yang tidak pernah terprediksi sebelumnya. Hampir semua gamer sepertinya sempat terkesima dengan misi lintas waktu di salah satu sisi cerita yang begitu memesona di kala itu. Semuanya dikombinasikan dengan mode multiplayer yang masih menawarkan konsitensi yang sama.

  1. Devil May Cry 5 (2019)

Bagaimana cara terbaik untuk membawa kembali sebuah franchise “lawas” yang sempat dikira tewas ke era gaming terkini? Apakah ia harus setia dengan pendekatan lawas seri originalnya atas nama identitas? Ataukah ia harus menawarkan sesuatu yang begitu baru dan berbeda atas nama modernisasi? Yang dilakukan Capcom adalah menawarkan keduanya dalam porsi yang seimbang lewat Devil May Cry 5. Seri teranyar yang satu ini memang masih terasa seperti seri Devil May Cry lawas dari sistem pergerakan dan lompatan untuk sisi platforming. Namun di sisi lain, ia menawarkan begitu banyak hal berbeda dari kehadiran karakter baru seperti V yang punya sistem pertarungannya sendiri hingga perubahan karakterisasi pada sosok Nero yang kini juga punya senjata baru. Pada akhirnya ia tampil sebagai game action selayaknya sebuah seri Devil May Cry yang seharusnya, game hack and slash dengan faktor “keren” yang di-set ke level paling maksimal. Ditambah musik cadas yang terikat pada gameplay? Nikmat mana lagi yang hendak kita dustakan.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

February 26, 2021 - 0

Review NBA 2K21 (Next-Gen): Nombok Dong! Nombok Dong!

Anda yang secara aktif mengikuti JagatPlay sepertinya sudah mengetahui bagaimana…
February 25, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Hardware): Si Bongsor yang Buas!

Berapa banyak dari Anda yang masih ingat soal kekhawatiran tidak…
February 20, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Software): Indah, Elegan, Cepat!

Diskusi terkait konsol generasi terbaru memang lebih banyak didominasi soal…
February 17, 2021 - 0

Menjajal BETA Guilty Gear Strive: Siap Menjadi yang Terbaik!

Seperti halnya posisi Codemasters di dunia game racing, nama Arc…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…