JagatPlay: 100 Game Terbaik Satu Dekade (2010 – 2019)

Reading time:
December 5, 2019
  1. Alien: Isolation (2014)

Membicarakan adaptasi Aliens ke dalam industri game berarti membicarakan cukup banyak produk yang berakhir mengecewakan. Di tengah memori buruk Aliens: Colonial Marines dari Gearbox Software yang di kala itu hadir sebagai lelucon, komitmen SEGA dan Creative Assembly untuk meracik sebuah seri Aliens yang berkualitas tetap bergeming. Untuk menangkap atmosfer film seri pertamanya yang memang lebih dekat dengan horror, game yang diberi nama Alien: Isolation tersebut berhasil mengeksekusi hampir semua hal dengan sempurna. Kita berbicara soal atmosfer yang tepat untuk membuat bulu kuduk Anda senantiasa berdiri hingga sang Alien sendiri yang tampil sebagai variabel konstan yang membuat keringat dingin Anda tak bisa berhenti mengucur. Sebuah seri fantastis yang akhirnya membuat gamer bisa menghela napas jika mereka ditanya soal game adaptasi Aliens yang pantas dibicarakan.

  1. Forza Horizon (2012)

Menjadi salah satu ujung tombak Microsoft hingga saat ini, Forza adalah game yang identik dengan balapan menggunakan mobil-mobil keren di track yang tak kalah fantastis. Namun pada akhirnya, konsep berbeda yang mereka usung via Forza Horizon yang juga memantapkan diri dengan desain level yang lebih terbuka yang mengakomodasi lingkungan liar di dalamnya adalah daya tarik terpisah yang berakhir selalu menuai pujian. Keputusan yang diambil Microsoft untuk sang seri pertama yang menjadi pondasi untuk lebih banyak seri, termasuk yang berakhir menjadi “nadi” Xbox sebagai platform gaming saat ini adalah salah satu keputusan terbaik yang bisa mereka ambil.

  1. Battlefield 3 (2011)

Hype yang tidak terbendung, tidak ada lagi kalimat yang lebih tepat untuk menjelaskan kondisi ketika trailer perdana Battlefield 3 meluncur ke publik. Bagaimana tidak? Kita seperti berhadapan dengan sebuah game next-gen yang seharusnya, dimana lewat implementasi engine Frostbite di kala itu, kita akhirnya bertemu dengan sebuah game shooter yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mengakomodasi sistem kehancuran berbasis senjata yang bisa diimplementasikan ke dalam gameplay. Masih belum cukup keren? Sisi multiplayer berbasis role yang siap memuat pertempuran dalam jumlah masif menghasilkan sensasi chaos yang adiktif, apalagi ketika beragam senjata dan granat yang Anda lempar berakhir dengan puing-puing yang berserakan. Gamer-gamer yang sempat menikmati indahnya 64 player Battlefield 3 di peta “Metro” pasti mengerti apa yang kami bicarakan. Battlefield 3 tidak hanya membangun pondasi untuk identitas Battlefield sebagai franchise hingga saat ini, tetapi juga merepresentasikan inovasi yang pantas untuk dipuji, dari sisi desain dan teknis tentu saja.

  1. Batman: Arkham City (2011)

Salah satu game superhero terbaik di industri game, predikat ini seolah sulit digeser dari presentasi sang Ksatria Kegelapan darI Rocksteady – Batman: Arkham. Seri pertama yang memesona kemudian disempurnakan di seri Arkham City yang akhirnya mulai mengeksplorasi sisi semi open-world yang ia usung. Ketika awal mencicipinya, ada sedikit rasa kekecewaan memang bahwa yang “taman bermain” Anda bukanlah Gotham secara keseluruhan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, porsi kota yang lebih kecil ini ternyata menjadi setting yang memesona. Kebebasan untuk bergerak layaknya Batman dengan gliding dan grappling hook menyempurnakan cerita yang fantastis dan sistem bertarung yang tak kalah keren. Rocksteady terlihat jelas mengerti apa yang mendefinisikan Batman sebagai seorang superhero dan membangun sebuah pengalaman yang definitif darinya.

  1. Monster Hunter World (2018)

Sebuah keputusan yang pantas diacungi jempol dari Capcom. Seolah memahami bahwa ada tuntutan pasar yang kuat untuk sebuah seri teranyar yang memanfaatkan performa konsol yang lebih modern alih-alih handheld yang terbatas, mereka melahirkan Monster Hunter World yang memesona. Pendekatan lebih modern dan bersahabat untuk gamer pendatang baru ini membuat komunitas yang terekspos dan berakhir jatuh hati dengan franchise ini semakin membesar. Apalagi di tengah potensi untuk mengeksploitasinya atas nama keuntungan, Capcom tetap mempertahankan kebijakan tanpa microtransactions yang membuat segala sesuatunya kian sempurnanya. Sisanya? Membiarkan gamer meracik equipment mereka sendiri dan berburu monster-monster raksasa yang tidak sulit untuk membunuh mereka dengan satu atau dua kali pukulan.

  1. Undertale (2015)

Ia terlihat seperti sebuah game RPG yang diracik setengah hati. Namun bagi gamer yang menaruh kepercayaan untuk menghabiskan waktu mereka atas nama Undertale, ia menawarkan pengalaman RPG yang belum pernah ada sebelumnya. Ada cerita dalam, musik memorable, dan sistem pertarungan unik yang ia usung yang membuatnya langsung menjadi game yang mencuri hati gamer di internet pada saat ia dirilis. Undertale sepertinya menjadi testimoni yang jelas bahwa implementasi kreativitas di dalam format yang secara visual terlihat terbatas adalah sebuah pendekatan yang tepat sasaran untuk menancapkan eksistensinya di industri game, baik di masa lalu, saat ini, ataupun masa yang akan datang.

  1. Pillars of Eternity (2015)

Tidak ada kata “berlebihan” untuk memuji apa yang berhasil ditorehkan Obsidian dengan game-game RPG yang mereka racik. Hadir dalam format kamera isometrik dan dunia yang begitu penuh kegelapan dan keputusasaan, Pillar of Eternity berhasil hadir sebagai sebuah game RPG yang solid. Kombinasi karakter unik yang biasanya memiliki job-nya masing-masing yang terasosiasi dengan skill yang ia usung menghasilkan kombinasi begitu banyak jenis serangan dan strategi yang bisa ia tempuh. Di atasnya adalah sebuah game RPG dengan cerita keren dan sistem opsi-konsekuensi yang pantas untuk diacungi jempol.

  1. Resident Evil 2 Remake (2019)

Siapa yang bilang bahwa sebuah game Remake hanyalah usaha malas sebuah developer / publisher untuk mendulang ekstra uang tanpa banyak usaha? Beberapa contoh kasus sepertinya dengan kuat membantah pernyataan tidak bedasar tersebut, seperti yang dibuktikan Capcom dengan Resident Evil 2 Remake. Pendekatan kamera over the shoulder yang lebih mengingatkan Anda pada seri Resident Evil 4 ternyata masih menjadi formula yang cukup efektif untuk menghasilkan sensasi horror yang solid, apalagi ketika ia tetap mempertahankan keterbatasan resource peluru dan item penyembuh yang notabene membuat perjalanan Anda kini tidak hanya sulit, tetapi juga butuh ekstra strategi. Horror ini semakin kuat dan kentara ketika Mr. X muncul dan secara konsisten berusaha memburu kemanapun Anda pergi. Salah satu hal yang membuat kami jatuh hati? Adalah fakta bahwa terlepas dari betapa banyaknya hal baru yang ia usung untuk menciptakan gameplay lebih modern, ia masih menyisakan banyak elemen dan easter egg yang tak sulit memicu sensasi nostalgia untuk gamer-gamer yang tumbuh di versi originalnya.

  1. P.T. (2014)

Ada rasa kesal dan sedih setiap kali kita membicarakan bagaimana Konami berakhir membatalkan Silent Hills, sebuah proyek game horror yang sempat didengungkan Hideo Kojima sebagai proyek yang tak akan peduli soal banyak kopi game terjual dan lebih berfokus untuk menghadirkan game horror paling seram yang pernah ada. Apalagi ia bahkan sudah menggandeng sosok mangka horror ternama – Junji Ito di dalamnya. Karena harus diakui, potensi ini memang terasa begitu kuat ketika kita harus mengakui bahwa teaser-nya saja yang disebut sebagai P.T. sudah berhasil tampil sebagai game horror skala kecil yang bahkan tampil lebih baik daripada sebagian besar game horror skala besar yang lain. Kita berbicara soal game yang tidak hanya super seram saja, tetapi juga begitu cryptic-nya hingga beberapa rahasia baru masih terungkap dari game yang kian menua ini. Format eksplorasi lorong yang mengulang namun menyisakan satu atau dua hal baru di setiap iterasi ini kemudian menjadi sumber insipirasi untuk beberapa game lainnya yang tertarik untuk mengekor hal yang sama.

  1. The Stanley Parable (2013)

Selalu ada tempat khusus nan istimewa untuk game-game yang tidak berfokus pada sisi mekanik dan lebih menjual narasi dan inovsi. Tidak ada bukti lebih nyata soal konsep seperti ini selain apa yang berhasil dicapai oleh The Stanley Parable – sebuah game tiada duanya yang hingga kini, tidak bisa dicontoh oleh game manapun. Bahwa keasyikan bermain tidak muncul dari seberapa banyak musuh yang Anda bunuh atau level karakter yang Anda racik, tetapi bagaimana ia mempermainkan sisi psikologis Anda dengan narasi-narasi kocak yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga beradaptasi dengan aksi yang Anda pilih, dari sekedar menekan tombol hingga sekedar bergerak ke lokasi tertentu. The Stanley Parable adalah sebuah kasus unik yang setidaknya harus Anda cicipi setidaknya satu kali seumur hidup Anda.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

February 26, 2021 - 0

Review NBA 2K21 (Next-Gen): Nombok Dong! Nombok Dong!

Anda yang secara aktif mengikuti JagatPlay sepertinya sudah mengetahui bagaimana…
February 25, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Hardware): Si Bongsor yang Buas!

Berapa banyak dari Anda yang masih ingat soal kekhawatiran tidak…
February 20, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Software): Indah, Elegan, Cepat!

Diskusi terkait konsol generasi terbaru memang lebih banyak didominasi soal…
February 17, 2021 - 0

Menjajal BETA Guilty Gear Strive: Siap Menjadi yang Terbaik!

Seperti halnya posisi Codemasters di dunia game racing, nama Arc…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…