JagatPlay: 100 Game Terbaik Satu Dekade (2010 – 2019)

Reading time:
December 5, 2019
  1. The Legend of Zelda: Breath of the Wild (2017)

Adiktif, penuh hati, memesona, seru, dengan konsep open-world fantastis yang pantas untuk dijadikan standar lebih banyak game open-world di masa depan adalah kalimat yang kami pilih untuk menjelaskan pesona yang berhasil dihadirkan Legend of Zelda: Breath of the Wild. Menabrak konsep game open-world di eranya yang sebagian besar terkunci pada sistem menara dan aksi yang dimotivasi misi sampingan berbasis ikon, Breath of the Wild justru mengedepankan sistem eksplorasi dengan penempatan dungeon yang keren, ragam aksi dan musuh yang bisa dihadapi, puzzle super cerdas yang menantang untuk diselesaikan, serta physics yang bekerja dalam batas-batas logika. Kapan lagi Anda bertemu dengan sebuah game yang memfasilitasi Anda untuk menggunakan pedang-pedang berbahan metal untuk mengalirkan listrik atas nama menyelesaikan puzzle alih-alih menggunakan kunci yang “seharusnya”? Ini juga sebuah game yang membuka pintu lebar-lebar kastil boss terakhir jika Anda cukup gila untuk berusaha menundukkannya di satu jam pertama.

  1. God of War (2018)

Industri game adalah sebuah bisnis. Bisnis dibutuhkan untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin. Keuntungan akan lebih mudah diraih jika sang developer mengeksploitasi sebuah konsep yang sebenarnya sudah terbukti sukses di pasaran dan sekedar melakukan permak minimal untuk menjualnya sebagai sebuah seri terbaru. Namun konsep seperti ini sama sekali diabaikan oleh Sony Santa Monica dengan God of War. Bahwa alih-alih menawarkan sesuatu yang sama, mereka melakukan konstruksi ulang hampir semua elemen yang menjadikan God of War sebagai sebuah seri God of War di masa lalu. Mereka merombak dan mendobrak kepribadian Kratos yang kini sudah memiliki anak bernama Atreus, konsep sudut pandang dan kamera, sistem pertarungan dan senjata, eksplorasi, desain efek suara dan musik, serta mitologi Norse yang ternyata jauh lebih kompleks dan menggoda dibandingkan Yunani sekalipun. Sebuah tindakan berisiko yang terbayar begitu manis.

  1. The Last Guardian (2016)

Jika Anda sudah mengikuti JagatPlay untuk waktu yang sangat lama, maka Anda sepertinya tahu jelas bahwa kami memang termasuk media gaming yang sangat mudah jatuh hati pada game-game yang berusaha menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda di industri game. Sebuah kalimat sama yang bisa menjelaskan posisi The Last Guardian yang fantastis. Kita berbicara soal petualangan seorang anak dengan entitas bak binatang berukuran raksasa, yang secara menakjubkan bersikap layaknya binatang. Sebegitu binatangnya ia, bukan hanya dari sisi animasi saja, ia juga tidak memberikan kepastian kapan ia akan “tertarik” untuk mendengarkan perintah Anda atau mengabaikannya secara penuh seperti kucing atau anjing peliharaan Anda di rumah. Beberapa mungkin melihat ketidakkonsistenan ini sebagai kelemahan, namun bagi kami, hal inilah yang membuat The Last Guardian terasa seperti produk yang dikembangkan dengan tidak hanya pengetahuan teknis saja tetapi juga “hati”.

  1. The Elder Scrolls V: Skyrim (2011)

Apa yang perlu dibicarakan dari Skyrim? Satu terlepas dari usianya yang sudah tua, ia masih menjadi salah satu game RPG terfavorit yang secara konsisten populer, apalagi di PC karena dukungan mod yang terus ada. Kedua? Todd Howard masih secara konsisten berusaha memastikan game ini hadir di semua platform yang tersedia, bahkan VR dan Nintendo Switch, dengan sistem rilis ulang yang kini mulai terdengar seperti lelucon. Ketiga? Terlepas dari ribuan jam permainan yang ditempuh beberapa gamer, selalu ada kesempatan mereka belum menemukan semua rahasia dan easter egg yang disimpan oleh game dengan dunia yang luas ini. Keempat? Ketiga fakta ini saja sudah cukup menjelaskan kepada Anda bukan hanya soal seberapa keren dan adiktifnya Skyrim sebagai sebuah game RPG, tetapi juga bagaimana ia pantas menyandang predikat sebagai sebuah “fenomena”.

  1. Divinity Original Sin 2 (2017)

Menemukan sebuah game action RPG yang berkualitas memang bukan pekerjaan yang mudah. Mengapa? Karena sebagian besar game yang mengusung genre ini berakhir sekedar menjadi game action yang menambahkan elemen RPG seperti bar EXP atau Skill Tree dan kemudian melupakan aspek terpentingnya – “Role-playing”. Hal inilah yang membuat Divinity Original Sin 2 hadir sebagai sebuah produk memesona yang tiada duanya. Lewat sistem percakapan ia menawarkan begitu banyak cerita. Lewat opsi yang Anda pilih, ada konsekuensi yang biasanya akan Anda tuai, langsung ataupun tidak. Lewat sistem pertarungan yang juga dipenuhi magic di sana-sini, Anda juga bisa memanipulasi lingkungan untuk mendapatkan keuntungan strategis tertentu dan bukan hanya bertarung tanpa otak. Semua pesona ini melebur dalam proyek fantastis bernama Divinity Original Sin 2.

  1. Grand Theft Auto V (2013)

Rilis satu seri setiap beberapa tahun sekali dan datang dengan detail, kisah, dan mekanik yang tidak pernah mengecewakan sama sekali, ada alasan yang jelas mengapa Rockstar saat ini masih terus mendulang uang dari GTA V dan mode online yang ia usung – GTA Online. Ia masih mempertahankan basis cerita soal tokoh-tokoh kriminal yang berusaha membangun “kerajaannya” dari bawah, namun kini menggunakan perspektif tiga karakter yang masing-masing memiliki kemampuan dan kepribadian uniknya sendiri. Kesempatan untuk menggonta-ganti karakter secara instan seperti ini hanyalah satu dari sedikit hal yang membuat GTA V memesona. Implementasi tema yang lebih relevan ke dalam gameplay seperti pasar saham, misi-misi perampokan yang tidak pernah tidak seru, serta beberapa adegan penyiksaan eksplisit yang ia usung tergabung solid dengan voice acting yang juga tidak kalah menawan. GTA V adalah sebuah akumulasi elemen-elemen yang seharusnya dimiliki game open-world dan menjadi sebuah standar tertinggi yang sulit untuk dikejar.

  1. The Witcher 3: Wild Hunt (2015)

Angka “3” yang diusung game action RPG milik CD Projekt Red – The Witcher 3: Wild Hunt mungkin membuat beberapa gamer yang tidak terlalu familiar atau tidak terlalu senang dengan kualitas dua seri pertamanya yang tidak terlalu baik, angkat tangan. Namun bagi mereka yang tetap memberanikan diri untuk terjun masuk untuk menjadi seorang Geralt of Rivia ini, pengalaman action RPG yang ia usung memang tidak tergantikan. Berperan sebagai seorang Witcher – pemburu monster yang ditakuti manusia biasa namun punya peran esensial untuk menjaga keamanan diwakili dengan baik lewat sistem gameplay yang menuntut pedang berbeda untuk jenis berbeda, sistem potion untuk mempersiapkan diri, serta proses investigasi untuk menyelesaikan ragam sisi sampingan yang ada. Dikombinasikan dengan karakter yang indah, kompleks, dan hidup bahkan saat berinteraksi satu sama lain, The Witcher 3: Wild Hunt tetap akan jadi sebuah produk game action RPG yang konstan dibicarakan sebagai sebuah produk ultimate, bahkan ketika Anda menua sekalipun.

  1. The Last of Us (2013)

“Video game seharusnya menyenankan”, adalah sebuah prejudice yang sudah selayaknya mati. Bahwa di tengah usia kita yang semakin dewasa yang juga diikuti dengan performa platform yang semakin kuat dan mampu menangani sisi presentasi lebih realistis dan data lebih banyak, ia kini menjadi ruang yang jauh lebih solid daripada sekedar untuk menikmati game yang meminta Anda untuk membunuh dan melompat saja. Di tangan dingin Naughty Dog, ia tumbuh menjadi sebuah game post-apocalyptic survival horror yang tidak hanya mengusung visualisasi dan animasi pertarungan yang indah saja, tetapi juga media cerita soal emosi dan kompleksitas manusia. Bahwa di tengah semua mimpi buruk ini, manusia tetaplah makhluk yang penuh rasa cinta, rasa cemas, penuh harapan, tetapi juga egois di saat yang sama. The Last of Us memberikan begitu banyak ruang dan momen untuk membuat hati Anda terenyuh, marah, dan sedih di saat yang sama. Membuatnya pantas untuk masuk ke dalam tiga besar game terbaik 1 dekade kami.

  1. DOTA 2 (2013)

Tiga buah jalur dengan satu misi yang sama – hancurkan markas musuh dan Anda akan menang. Pernahkah Anda membayangkan bahwa konsep game kompetitif yang di atas kertas terdengar super tolol ini ternyata berhasil tidak hanya sekedar “bertahan hidup” selama 10 tahun terakhir ini, tetapi juga tumbuh dari tahun ke tahun lewat hadiah turnamen The International yang berhasil memecahkan rekor USD puluhan juta belum lama ini. Salah satu hal yang fantastis dari cara IceFrog dan Valve menangani DOTA 2 adalah keberanian untuk mengambil resiko, mengadopsi beragam sistem baru yang secara signifikan mengubah gaya bermain dan meminta gamer veteran sekalipun untuk kembali belajar dari awal, namun di sisi lain, secara konsisten terus melakukan proses balancing yang dianggap dibutuhkan untuk menjaga atau bahkan, mengubah meta yang ada. 10 tahun terakhir yang diikuti dengan begitu banyak perubahan ini berakhir dengan komunitas yang kini sudah menghabiskan ratusan hingga ribuan jam dengannya, dan siap untuk mengalokasikan lebih banyak hidup mereka di masa depan.

  1. Mass Effect 2 (2010)

Pilihan kami untuk game terbaik di antara semua game terbaik dalam satu dekade terakhir (2010 – 2019) jatuh kepada game action RPG milik Bioware dan EA – Mass Effect 2. Ketika seri pertamanya eksis, Mass Effect adalah game sci-fi yang penuh dengan potensi namun juga dihadang dengan ragam limitasi dari sisi cerita dan gameplay. Di Mass Effect 2 lah sensasi Anda sebagai seorang Commander Shepard yang hendak menyelamatkan dunia tetapi juga semesta bersinar dengan terang. Sistem aksi ala third person shooter yang lebih memuaskan dan sistem skill yang berkontribusi signifikan kini diikuti dengan pengenalan karakter companion yang berakhir menjadi kru, yang masing-masing juga didukung dengan cerita belakang layar unik, kepribadian yang berbeda, serta spesilisasi yang membuat mereka punya peran penting dalam cerita. Mengeksplorasi luar angkasa dan semesta atas nama untuk membongkar salah satu misteri yang menghantuinya adalah satu pengalaman terepik yang pernah kami dapatkan di game action RPG, game action, ataupun game eksplorasi luar angkasa manapun. Sebuah game yang di masa rilisnya, tampil tak ubahnya sebuah sihir. Lebih kerennya lagi? Anda juga bisa merasakan bagaimana Bioware sudah mempersiapkan dunia dan lore yang kompleks untuknya, hingga pada batas sekedar membicarakan soal efek fisika yang mungkin atau tidak mungkin terjadi di dalamnya.

Maka di atas adalah 100 game yang kami anggap terbaik di antara yang terbaik selama kurun waktu 1 dekade terakhir (2010 – 2019). Tentu saja, karena preferensi kita yang berbeda, game-game yang menurut Anda pantas untuk masuk tentu saja bisa berbeda dengan apa yang kami tuliskan di atas. Namun terlepas dari perbedaan tersebut, fakta bahwa kita bisa membicarakan apa saja game yang sudah mencuri hati kita selama 10 tahun terakhir dan bisa digonta-ganti dengan bebas di daftar 100 game teratas yang kami racik sudah menjadi testimoni tidak langsung bahwa satu dekade ini memang menjadi sebuah periode 10 tahun yang “memanjakan” untuk gamer. Bahwa kita benar-benar disuguhi game-game yang tidak hanya keren, tetapi juga inovatif. Kerennya lagi? Tidak semuanya hadir dari tangan dingin publisher dan developer dengan budget besar, tetapi juga developer-developer indie yang terlepas dari keterbatasannya, mampu menawarkan sesuatu yang memesona.

Selamat tinggal dekade 2010-an dan selamat datang dekade 2020-an. Semoga dalam 10 tahun ke depan, kita akan bisa terus disuguhkan game-game super keren yang pantas dirayakan dan dibicarakan, apalagi dengan proses peralihan generasi yang pada saat artikel ini ditulis, tengah dipersiapkan. Semoga saja saya pribadi masih diberi kesempatan untuk terus berceloteh soal video game, Anda masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk terus mencicipi game-game favorit Anda, dan selebrasi untuk dekade 2020-an tetap menunggu untuk terjadi! Cheers untuk 10 tahun terakhir dan 10 tahun ke depan!

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

February 26, 2021 - 0

Review NBA 2K21 (Next-Gen): Nombok Dong! Nombok Dong!

Anda yang secara aktif mengikuti JagatPlay sepertinya sudah mengetahui bagaimana…
February 25, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Hardware): Si Bongsor yang Buas!

Berapa banyak dari Anda yang masih ingat soal kekhawatiran tidak…
February 20, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Software): Indah, Elegan, Cepat!

Diskusi terkait konsol generasi terbaru memang lebih banyak didominasi soal…
February 17, 2021 - 0

Menjajal BETA Guilty Gear Strive: Siap Menjadi yang Terbaik!

Seperti halnya posisi Codemasters di dunia game racing, nama Arc…

Nintendo

March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.