JagatPlay: 100 Game Terbaik Satu Dekade (2010 – 2019)

Reading time:
December 5, 2019
  1. The Walking Dead: A Telltale Game Series (2012)

“Zombie lagi, zombie lagi!” ini mungkin reaksi banyak gamer ketika mendengar proyek adaptasi The Walking Dead menuju versi video game dengan format interactive story sebagai basis. Bahwa alih-alih menjadi sebuah game action tembak-tembakan atau penuh serangan melee, Telltale lebih memilih untuk membawa Anda melewati petualangan berbasis opsi-konsekuensi yang diproyeksikan lewat karakter utama yang tidak sempurna. Namun siapa yang menyangka, bahwa 5 episode terpisah yang ia lepas, The Walking Dead: A Telltale Game Series berhasil menobatkan dirinya sebagai salah satu game interactive story terbaik yang pernah ada. Ia berhasil memotret sebuah dunia post-apocalyptic tanpa belas kasihan dimana survival adalah misi utama, sembari tetap memperlihatkan “hal-hal indah” yang membedakan antara manusia dan seorang zombie. Ini adalah sebuah game yang siap untuk membuat Anda kesal karena beberapa karakter yang menyebalkan di satu titik, tetapi juga menangis di sisi yang lain. The Walking Dead season pertama ini adalah game terbaik yang pernah diracik Telltale.

  1. Super Smash Bros. Ultimate (2018)

Menambahkan kata “Ultimate” ke dalam sebuah produk tertentu bukanlah sebuah hal yang main-main. Begitu membaca kalimat yang satu ini, calon konsumen dalam hal ini – gamer tentu saja mengharapkan sesuatu yang lebih daripad sebuah versi standar. Di tangan seorang Masahiro Sakurai dan Nintendo, kata “Ultimate” adalah sesuatu yang mereka pelakukan dengan penuh rasa hormat. Hasilnya? Sebuah game rilis ulang yang bahkan melebihi harapan dan mimpi gamer sekalipun. Hadir sebagai game fighting yang pada dasarnya sudah memiliki basis fans yang kuat, Super Smash Bros. Ultimate terus menyuntikkan diri dengan tambahan karakter-karakter roster, item kosmetik, hingga kolaborasi dengan franchise lain yang sebelumnya tak terprediksi sebelumnya. Seiring dengan usia gamenya yang menua, alih-alih mereda, ambisi Sakurai untuk kata “Ultimate” ini justru terlihat semakin meroket. Kondisi seperti ini membuatnya punya posisi yang istimewa.

  1. L.A. Noire (2011)

Sebuah game yang inovatif dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya, ini mungkin kalimat yang tepat untuk menjelaskan posisi L.A. Noire di industri game. Bayangkan saja, di era Playstation 3 dan Xbox 360 yang notabene tidak hadir dengan performa sebaik generasi saat ini, Rockstar berhasil menawarkan sebuah game detektif yang tidak sekedar terjebak pada aksi tembak-tembakan atau kejar-kejaran. Bahwa motivasi Anda saat menyelidiki kasus kriminal yang terjadi justru bersumber pada kebutuhan untuk mencari tahu dan menangkap siap sang pelaku utama. Fitur terunik tentu saja terletak pada fitur interogasi yang menggabungkan soal jumlah clue yang Anda dapatkan dan juga kehebatan Anda membaca ekspresi wajah tersangka yang akan menunjukkan apakah mereka tengah jujur atau berbohong. Animasi wajah yang begitu hidup dan voice acting memesona membuat L.A. Noire tampil sebagai game detektif yang tiada duanya.

  1. Metal Gear Solid V: The Phantom Pain (2015)

Terlepas dari apakah ia merupakan tuntutan Konami ataukah keinginan Kojima sendiri untuk mengembangkannya, Metal Gear Solid V: The Phantom Pain terus digadang sebagai “jembatan cerita” yang akan membuat timeline Metal Gear Solid selama ini menjadi lebih masuk akal. Di luar kekacauan narasi yang mungkin dianggap sebagian besar gamer tidak berhasil memenuhi tugasnya dengan baik, ia tetap jadi sebuah seri Metal Gear Solid yang “menyegarkan”. Bahwa alih-alih terkunci pada sistem dunia yang lebih linear, gamer diberikan kebebasan ekstra untuk mencari metode dan solusi mereka sendiri, apakah mereka ingin bermain secara stealth atau bertempur secara terbuka. Sistem management resource via Motherbase juga tidak kalah adiktif dan menarik. Sayangnya, harus diakui, ada kesan “tak selesai” di akhir cerita yang sepertinya disebabkan oleh masalah pelik antara Hideo Kojima dan Konami itu sendiri.

  1. Shovel Knight (2014)

Di atas kertas, konsepnya terdengar begitu “bodoh”. Bayangkan saja, kita berbicara soal sebuah game yang meminta Anda untuk berperan sebagai seorang ksatria yang menjadikan sebuah cangkul sebagai senjata utama. Ia bisa menaiki cangkul tersebut untuk mengeksekusi serangan vertikal, ia bisa menggunakannya untuk mencangkul ragam harta karun yang ada, dan tentu saja untuk menyerang musuh yang ia temui di sepanjang perjalanan. Namun siapa yang menyangka bahwa konsep absurd ini ternyata dieksekusi dengan luar biasa, menghasilkan sebuah game action RPG dua dimensi yang tidak hanya adiktif saja tetapi juga memuat sistem progress yang begitu memuaskan. Update konten keren dan mode multiplayer offline kooperatifnya membuat Shovel Knight, kian mengagumkan.

  1. Super Mario Maker (2015)

Gamer-gamer yang tidak mengikuti sepak terjang Nintendo akan terus memuntahkan argumen bagaimana perusahaan asal Jepang ini hanya bisa mengeksploitasi Mario yang terus dirilis di setiap generasi. Padahal untuk setiap seri yang muncul, sebuah inovasi juga selalu mengemuka. Puncaknya terletak di Super Mario Maker dimana Nintendo dengan cerdasnya membangun sebuah ekosistem game Mario tak berkesudahan yang alih-alih harus mereka pikirkan sendiri justru dibangun oleh sang komunitas. Hasilnya memesona. Dengan ide kreatif gamer-gamer di seluruh dunia, set tools yang diusung Super Mario Maker mampu menghasilkan beberapa ide kreatif yang bahkan, tak pernah terpikirkan sebelumnya.

  1. Dragon Quest XI – Echoes of an Elusive Age (2017)

Atas nama berusaha tampil lebih modern dan menarik hati gamer-gamer muda yang tidak lagi pernah mencicipi game JRPG dalam format turn-based, banyak developer game JRPG yang memutuskan untuk mengganti format lawas franchise populer mereka menjadi sebuah game action RPG. Ia memang menghasilkan sensasi pertarungan yang lebih cepat dan intens, namun di beberapa titik,seperti kehilangan identitas. Keputusan Square Enix dan tim Dragon Quest untuk tetap mempertahankan format turn-based ini di seri teranyar – Dragon Quest XI yang juga didukung visualisasi memesona dan cerita yang benar-benar keren adalah salah satu keputusan terbaik yag bisa diambil. Ia tetap terasa seperti sebuah game Dragon Quest yang seharusnya.

  1. Pokemon GO (2016)

Bukan sebuah konsep baru memang, namun kesempatan untuk menikmati sebuah game AR yang juga kebetulan memanfaatkan salah satu franchise terbesar dan terpopuler di dunia seolah menjadi rumus-anti-gagal untuk sebuah game mobile memesona yang sukses di pasaran – Pokemon GO. Eksistensinya langsung menjadi fenomena yang mengubah cara gaming bekerja, setidaknya di kalangan para casual. Ia menggabungkan keseruan Pokemon dengan aktivitas fisik di dunia nyata yang secara menakjubkan, juga melahirkan komunitas-komunitas dimana gamer yang selama ini terikat dengan stereotipe sebagai introvert hingga anti-sosial tidak berkeberatan untuk berkumpul, berbagi infomasi, dan bersenang-senang bersama. Kita berbicara soal sebuah game yang bahkan di beberapa negara cukup untuk memicu lahirnya peraturan tertentu yang didesain untuk melimitasi aktivitas gerak penggunanya.

  1. Borderlands 2 (2012)

Sedikit menyedihkan memang melihat bahwa satu-satunya produk sukses yang bisa dihadirkan Gearbox Software saat ini hanyalah ketika game itu mengusung nama “Borderlands” di dalamnya. Game action RPG shooter yang satu ini memang adiktif dari sisi gameplay dan menarik dari sisi cerita. Salah satu kunci adiksinya datang dari fitur multiplayer kooperatif yang solid dan ribuan jenis senjata dengan beragam efek, keunikan, elemen, dan buff yang bisa Anda kejar. Yang membuat Borderlands 2 lebih memesona daripada seri pertamanya? Selain konten dunia yang lebih luas dan senjata yang lebih gila, kuncinya juga terletak pada tokoh antagonis utama – Handsome Jack yang pantas digadang sebagai salah satu antagonis video game terbaik yang pernah ada.

  1. Far Cry 3 (2012)

Jika Anda dan saya berbicara soal karakter antagonis paling ikonik Far Cry selama satu dekade terakhir ini, maka Vaas Montenegro sepertinya akan langsung masuk ke dalam daftar tertinggi dari list yang memang harus diakui, terbatas ini. Yang membuat Vaas begitu fenomenal bukan hanya karakterisasi psikopatik yang ia usung, melainkan sebuah konsekuensi tidak langsung dari ciamik dan rapinya Ubisoft mengembangkan Far Cry 3. Dunia Engine yang mereka sempurnakan hadir sebagai pondasi membangun pulau pulau tropis memanjakan mata, dengan konsep dunia open-world berbasis menara yang di kala itu masih bisa diterima dengan tangan terbuka karena frekuensi yang masih terhitung jarang. Sisanya? Bersenang-senang dengan senjata, animasi healing, dan aksi yang jauh lebih mudah dinikmati dan tidak sefrustrasi Far Cry 2.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

February 26, 2021 - 0

Review NBA 2K21 (Next-Gen): Nombok Dong! Nombok Dong!

Anda yang secara aktif mengikuti JagatPlay sepertinya sudah mengetahui bagaimana…
February 25, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Hardware): Si Bongsor yang Buas!

Berapa banyak dari Anda yang masih ingat soal kekhawatiran tidak…
February 20, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Software): Indah, Elegan, Cepat!

Diskusi terkait konsol generasi terbaru memang lebih banyak didominasi soal…
February 17, 2021 - 0

Menjajal BETA Guilty Gear Strive: Siap Menjadi yang Terbaik!

Seperti halnya posisi Codemasters di dunia game racing, nama Arc…

Nintendo

March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.