Review DOOM Eternal: Berdansa Panik di Neraka!
Melompat-Lompat

Benar sekali, tantangan baru Anda tidak lagi sekedar muncul lewat kombinasi para iblis yang harus Anda perangi saja, tetapi juga lewat sesi platforming yang kini diperluas. Jika di seri sebelumnya, kebanyakan proses platforming bisa dibilang terbatas – dimana rahasia yang Anda temukan di area yang sama biasanya berada dalam lokasi yang bisa diprediksi dan mudah dijangkau, DOOM Eternal kini membawa sistem yang tidak banyak berbeda dengan game adventure kebanyakan. Kita bicara soal sisi platform yang tidak sekedar meminta Anda melompat saja, tetapi juga memikirkan arah dan timing. Platforming yang butuh, kemampuan mekanikal tersendiri.
Konsep ini diperkuat dengan setidaknya dua kemampuan baru yang dimiliki oleh Doom Slayer. Pertama, ia kini bisa mencengkeram terrain tertentu ala Nathan Drake di Uncharted atau Lara Croft di Tomb Raider Reboot untuk bergerak ke lokasi yang baru. Lokasi cengkeram ini akan hadir dengan tekstur yang berbeda hingga mudah dikenali. Kedua? Doom Slayer kini juga dibekali sistem Double-Dash dengan waktu cooldown singkat yang bisa Anda gunakan untuk menghindari serangan musuh dengan instan, tetapi juga butuh dimaksimalkan untuk menggapai platform yang lokasinya tidak mungkin digapai dengan satu kali lompatan saja. Dan tentu saja, Anda bisa melakukan double jump.
Konsekuensi lain dari hadirnya ekstra tantangan platforming ini juga berpengaruh pada desain level yang Anda temui. Berbeda dengan seri sebelumnya, area yang harus Anda lalui kini benar-benar jauh lebih luas, baik dari sisi horizontal ataupun vertikal. Hingga pada batas, Anda mungkin harus sering memeriksa fitur peta yang disediakan untuk memberikan gambaran lebih jelas kemana Anda harus melangkah setelahnya. Sebagian besar darinya juga berakhir menjadi ruang tanpa dasar yang butuh Anda lompati dengan akurasi tinggi, yang jika berakhir gagal akan membuat Anda jatuh begitu saja. Untungnya, konsekuensinya bukan langsung kematian. Untuk setiap kali Anda jatuh, Health Anda akan berkurang setidaknya 15, cukup signifikan jika Anda butuh resource melawan para iblis di area selanjutnya.


Salah satu sumber tantangan sisi platforming baru yang ditawarkan DOOM Eternal ini tidak hanya datang dari desain level, yang juga menawarkan banyak cabang jalan – dimana biasanya, salah satunya akan berisikan ekstra collectibles, resource untuk melakukan proses upgrade, hingga tempat khusus bernama Slayer Door (berisikan tantangan super sulit melawan lebih banyak iblis) yang butuh kunci spesifik saja. Sumber tantangan utama datang dari sisi perspektif. Mengapa? Karena berbeda dengan sisi platforming game third person shooter, dimana kamera berada di posisi jauh hingga Anda cukup mawas soal desain level, area yang bisa Anda daki, dan kemana Anda harus melangkah, DOOM Eternal datang dari sudut pandang orang pertama. Ini berarti area pandang terbatas, kebutuhan untuk terus menggerakkan kamera, dan pada akhirnya eksekusi ragam aksi platforming yang akurasinya tentu lebih sulit dari kacamata orang pertama.
Sebagai gamer yang mencintai seri DOOM (2016), kami termasuk gamer yang merasa bahwa sisi platforming yang ditonjolkan ini tidak banyak berkontribusi untuk membuat pengalaman DOOM Eternal jauh lebih fantastis. Ia memang jadi ekstra tantangan, namun di mata kami, justru terkadang mengacaukan pacing gameplay yang merenggut Anda kecepatan untuk bergerak dan menikmati dari satu arena pertempuran ke arena pertempuran yang lain. Namun di sisi lain, kami bisa memahami bahwa ia esensial untuk menciptakan dunia yang terasa lebih luas dan tantangan untuk mengumpulkan ragam collectibles dan resource dengan cara yang baru. Hanya saja, sesinya kadang terlalu panjang hingga berakhir merenggut pacing gameplay itu sendiri.
Battlemode – Ternyata Seru!

Berapa banyak dari Anda yang ingat dan sempat mencicipi mode multiplayer di DOOM sebelumnya? Bethesda di kala itu berupaya membangkitkan kembali sensasi arena shooter lawas ala Quake atau Unreal Tournament dalam format DOOM. Pertempuran berlangsung cepat, senjata didapatkan di arena, dan ada kesempatan untuk bertransformasi menjadi demon spesifik untuk ekstra keuntungan. Ia hadir dalam format perang kompetitif antar tim dan harus diakui, sama sekali tidak terasa istimewa. Mode multiplayer DOOM (2016) gagal meninggalkan kesan mendalam, berakhir dilupakan dan ditinggalkan begitu saja.
Di DOOM Eternal, mereka menjajal sesuatu yang terasa lebih radikal. Alih-alih kembali mengusung pertempuran kompetitif antar tim yang sama, mereka menawarkan mode baru bernama Battlemode yang secara sederhana, bisa disederhanakan sebagai game multiplayer asimetrikal. Jadi apa itu Battlemode?
Battlemode adalah sebuah mode pertempuran 1 vs 2. Satu player akan menjadi si Doom Slayer itu sendiri, sementara 2 player yang lain akan bekerjasama dan berperan sebagai Demon. Inti permainannya sepertinya sudah bisa Anda mengerti, dimana player Doom Slayer harus menghabisi 2 player Demon dan sebaliknya. Semua mekanisme dari sistem single player dipertahankan di sini, dimana Doom Slayer akan langsung mendapatkan akses untuk semua senjata lengkap dengan 2 mode serangan spesial untuk masing-masing senjata, chainsaw, grenades launcher, dan tentu saja flamethrower. Sementara untuk tim Demon, mereka akan datang dengan serangan khas mereka dan tentu saja, setidaknya satu akses serangan spesial. Pertempuran akan berjalan selama setidaknya 3 ronde, dimana di setiap pergantian ronde, setiap tim juga bisa memilih satu buff untuk memperkuat karakter mereka.


Konsep ini mungkin terdengar gila di atas kertas, namun berakhir super seru dan memesona di sisi eksekusi. Jika Anda berperan sebagai Doom Slayer, Anda mendapatkan semua keseruan dari mode single-player, termasuk strategi yang bisa Anda aplikasikan. Bedanya? Sekarang lawan Anda adalah dua demon besar yang tidak lagi ditangani oleh AI yang “terbatas”, tetapi user lain dengan otak dan kemampuan berstrategi yang jauh lebih baik. Apalagi jika mereka mulai memikirkan cara bekerjasama dengan baik dan benar. Terlepas dari kalah dari sisi kuantitas, varian senjata Doom Slayer dan kesempatan untuk mendapatkan armor dan ammo kapanpun ia butuhkan membuatnya tetap punya level ancaman yang berimbang jika Anda lawan dan efektivitas yang mumpuni jika Anda gunakan.
Sementara dari sisi Demon, keseruan datang dari varian iblis yang bisa Anda gunakan, yang mungkin juga berkontribusi pada strategi kolaborasi seperti apa yang ingin Anda gunakan. Anda misalnya bisa menggunakan Mancubus jika user lainnya ternyata menggunakan Marauder. Mancubus siap untuk menyerang jarak jauh, lengkap dengan serangan AOE yang siap untuk menguras HP Doom Slayer ketika ia sibuk memerangi Marauder yang dari sisi gameplay, harusnya terus bergerak cepat dan mengalihkan perhatian. Berita baiknya? Arena tidak hanya akan diisi oleh demon yang Anda kendalikan saja, tetapi juga berpotensi untuk “melahirkan” varian demon lain yang lebih kuat untuk membuat si Doom Slayer kewalahan.
Satu hal yang mengagumkan dari Battlemode adalah bagaimana ia berhasil mereplika sensasi pertempuran cepat dan intens dari mode single-player ke dalam mode multiplayer kompetitif asimetrikal yang terdengar begitu mustahil. Terlepas dari apakah Anda menggunakan si Doom Slayer atau menjadi salah satu Demon, Anda akan bersenang-senang dengan pertempuran yang biasanya, hanya akan memakan waktu beberapa menit ini.










